Tuesday, August 05, 2008

NISAN




apa yang akan kau tulis pada nisanmu?
binar kelopak mata anak-anak atau pendar bintang penghias malam? (cp)




Suatu hari saya didaulat (baca: disuruh) untuk membuat disain kata-kata pada nisan keduaorangtua saya. Katanya sih saya termasuk kreatif dalam menulis dan menyusun huruf. walah..



Cari punya cari, sebenarnya saya udah dari dulu kepingin menulis ayat dari Alkitab yang lain dari pada yang lain. Ide itu muncul ketika setahun lalu sahabat saya Alof kehilangan bapak tercintanya. Dia menulis pengumuman di millis begini : telah mengakhiri pertandingan dengan baik dst.



Seberapa banyak seorang anak-di dunia ini yang kehilangan serta bangga akan perjalanan hidup orangtuanya? mungkin banyak mungkin juga sedikit karena saya ragu di tengah dunia yang penuh dengan kepalsuan, hubungan yang renggang antara ortu dan anak, banyaknya bapak-bapak terlibat korupsi dan selingkuh, begitu banyak orangtua taunya hanya menuntut dan menuntut, bahkan perkawinan yang diakhiri perceraian dengan berita besar di koran-orangtua mengumbar kemarahan di depan anak-anak..hmmmm saya rasa tidak banyak.



Jangan katakan sombong bila saya memproklamirkan diri sebagai insan yang paling beruntung, karena lahir dari keluarga yang mengajarkan pride dan kerja keras. Awalnya adalah bapak saya eh lama kelamaan saya justru sadar bahwa ibu saya lebih hebat!



Bapak saya orang hebat dan terpilih! Suatu kombinasi unik antara cerdas, pemberontakan, kegilaan, kerja keras, kreativitas, wibawa, murah hati (baca:boros terarah) dan satu lagi pengayom- suatu kombinasi yang jarang dipunyai laki-laki saat ini. Namun tidak banyak perempuan yang tahan banting mendampingi seorang suami dengan berbagai kesibukan dan pelayanan terhadap orang kecil, dengan duit pas-pas an dan waktu yang banyak tersita melakukan perjalanan keluar negri.



Ada banyak anak gadis yang iri dan ingin punya bapak seperti bapak saya. I said, don't think about it! Really. Bapak saya tidak akan membiarkan anak gadisnya dipersunting laki-laki sembarangan. Mereka harus menjalani beberapa tes sampai akhirnya didapat kesimpulan. Apa mau diperlalukan kayak gitu? hi..hi ntar kayak cerita sinteron kawin lari.



Kini saya menyadari bahwa semua itu hanya akal-akalan bapak untuk men-tes anak gadisnya sendiri. he..he he





Monday, July 28, 2008

Men'e men'e tek'el ufarsin

Men'e men'e tek'el ufarsin - PELAJARAN UNTUK SEORANG RAJA


Ada yang istimewa minggu ini. Bukan karena tahapan pemilu 2009 memasuki tahapan pencalonan legislatif masing-masing partai, bukan pula karena ada pemikiran saya mau diusulkan mendaftar jadi KPU Provinsi Sumut, atau maju jadi calon walikota siantar 2010 hi..hi, tapi karena kotbah minggu pagi 27 Juli 08 di GKPS Sudirman yang membahas mabuk tuak dan juga mabuk-mabuk lainnya. Ketika manusia mabuk, maka ia tidak dapat mengendalikan diri, tidak sadar akan kelakuannya, angkuh, tidak takut akan Tuhan, bahkan erani menghina Tuhan. Pas sebagai pelajaran untuk para calon RAJA/pemimpin!
Alakisah Raja Belsyazar raja orang kasdim yang sesat, dalam mabuk anggur, hawa nafsu dan pesta poranya menjadi hilang kendali dan berani-beraninya mengambil cawan emas dan perak dari Bait Suci untuk dipakai mabuk-mabukan.
Maka pada acara dugem tersebut, raja dibuat pucat, gelisah dan gemetar ketika melihat ada jari-jari angan manusia menulis sesuatu di dinding : Men'e men'e tek'el ufarsin. Apa artinya? Nanti saya jelaskan.
Tulisan yang dibuat "tangan ajaib" itu tidak dapat diartikan atau diterjemahkan oleh para ahli di kerajaan itu, dari mulai ahli nujum, ahli jampi, para kasdim, para orang bijak sehingga raja menjadi bingung dan makin gelisah.
Singkat cerita Daniel yang saat itu terkenal sebagai orang cerdas, rendah hati, penuh dengan roh para dewa, pada nya terdapat kecerahan dan hikmat yang luar biasa, mematuhi perintah Tuhan-mampu menterjemahkan tulisan peringatan di dinding, hingga akhirnya mendapat kemuliaan.
Sebagai penguasa Raja Belsyazar menjanjikan imbalan setimpal kepada bagi yang menterjemahkan tulisan itu. Demikian juga dengan Daniel dijanjikan pakain dari kain ungu, lehernya akan dikalungi emas dan akan mempunyai kekuasaan dalam kerajaan sebagai orang ketiga. Daniel dengan rendah hati berkata, "Tahanlah hadiah Tuanku, berikan pada orang lain, namun aku akan tetap membacakannya" Suatu sikap yang terpuji-bekerja bukan untuk diri sendiri, namun agar Nama Tuhan semakin dimuliakan. Bukan seperti raja yang meninggikan diri lebih dari "YANG MEMBERINYA NAFAS"
Maka diterjemahkanlah kata-kata di dinding. Men'e masa pemerintahan tuanku dihitung oleh Allah dan telah diakhiri Teke'l tuanku ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan Peres kerajaan tuanku dipecah dan diberikan kepada orang Media dan Persia. Pada malam itu juga terbunuhlah Belsyazar, raja orang Kasdim itu.
Harusnya tulisan itu ada di tiap dinding para pemimpin dan pejabat negara ini untuk mengingatkan :-)

Wednesday, July 02, 2008

GENDER DAN ORGANISASI GEREJA SIMALUNGUN[1]

PENDAHULUAN

Berbicara mengenai gender dan budaya Simalungun tidak terlepas dari kenyataan bahwa peradaban ini telah mengajarkan dan mempropagandakan bahwa laki-laki lebih tinggi kedudukannya dibanding perempuan, bahwa perempuan harus dikuasai laki-laki dan merupakan harta dari milik lelaki. Konstruksi pemikiran ini berpengaruh besar pada budaya-budaya di dunia termasuk Simalungun.

Etnis Simalungun menganut garis keturunan bapak (patriarkat). Ciri patriarkat itu nampak jelas dalam pelaksanaan adat istiadat, antara lain :
1. Marga suami mewarisi marga anak-anaknya dan mewarisi marga anak laki-laki turun temurun.
2. Dalam buku tumpak atau sumbangan biasanya nama bapak yang dituliskan
3. Dalam pembicaraan adat biasanya selalu didominasi oleh bapak
4. Dalam hal ahli waris, dll.
Menurut catatan sejarah, secara sosio-politis Suku Simalungun dipimpin oleh beberapa raja dimana masing-masing raja memiliki daerah kekuasaannya. Poligami banyak terjadi di kalangan para raja, para bangsawan serta orang-orang terhormat seperti anak raja. Maraknya Poligami ini diperkuat dengan adat kebiasaan bahwa kaum pria-lah yang menjadi pewaris harta peninggalan orangtua maupun harta dari saudara orangtuanya jika mereka tidak memiliki anak laki-laki. Jika raja hendak mengawini perempuan lainnya untuk dijadikan istri berikutnya, biasanya tidak perlu meminta persetujuan dari istri pertama dan dari orangtua perempuan tersebut. Bahkan ada kebanggan dari pihak orangtua perempuan jika raja bersedia mengawini anak gadisnya, sebab dengan demikian status sosialnya ikut terangkat. Istri pertama raja disebut Puang Bolon (istri besar) sedang istri berikutnya disebut puang. Jadi pada saat itu kedudukan wanita sangat direndahkan kaum pria terutama jika termasuk rakyat kebanyakan.

BEBERAPA PENGERTIAN
Perbedaan jenis kelamin dan gender.
Jenis kelamin merupakan perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki. Gender adalah seperangkat ciri-ciri yang spesifik yang dilekatkan kepada perempuan dan laki-laki dan dibangun oleh masyarakat (dikonstruksi masyarakat). Gender juga mengacu kepada hubungan antara perempuan dan laki-laki serta cara-cara bagaimana gender itu dibangun oleh masyarakat. Oleh karena itu gender merupakan istilah yang relatif, di dalamnya tercakup perempuan dan laki-laki. Dengan demikian gender bukan sinonim dari kata perempuan. Gender adalah alat analisis untuk memahami hubungan sosial antara perempuan dan laki-laki.
Kesetaraan gender (gender equality) berarti perempuan dan laki-laki menikmati status yang sama dan memiliki kondisi yang sama untuk menggunakan hak-hak nya dan kemampuannya secara penuh dalam memberikan kontribusinya kepada pembangunan politik, ekonomi, sosial dan budaya.
Keadilan gender (gender equity) adalah proses yang adil bagi perempuan dan laki-laki. Agar supaya proses yang adil bagi perempuan dan laki-laki terwujud, diperlukan langkah-langkah untuk menghentikan hal-hal yang secara sosial dan menurut sejarah telah menghambat perempuan dan laki-laki untuk bisa berperan dan menikmati hasil dari peran yang diinginkannya. Keadilan gender mengantar ke kesetaraan gender.
Hubungan Gender dan Kebudayaan
Adat budaya adalah suatu tata krama yang dikembangkan dalam kehidupan manusia yang mengandung nilai-nilai luhur, yang diwarisi dari generasi ke generasi. Gender mengacu kepada peran-peran dan tanggung jawab perempuan dan laki-laki yang ditentukan oleh masyarakat. Konsep Gender juga mengacu kepada adanya harapan-harapan tentang sikap, prilaku dari perempuan dan laki-laki yang disesuaikan dengan peran dan tanggung jawabnya. Berbagi peran dan harapan ini dipelajari, dapat berubah setiap saat dan bervariasi baik didalam maupun diantara berbagai budaya.
Analisis gender memperlihatkan bagaimana subordinasi perempuan dibangun secara sosial. Oleh karena itu berlawanan dari perbedaan yang ditentukan secara biologis yang sifatnya statis. Gender dapat berubah/dirubah. Dalam hal ciri-ciri spesifik yang dilekatkan (baca: dikonstruksikan masyarakat dari generasi ke generasi) maka gender dalam masyarakat Simalungun juga telah mengalami perubahan sepanjang jaman.

GENDER DAN ORGANISASI GEREJA SIMALUNGUN

Dalam hal spiritual, gereja juga turut melegitimasi pemikiran bahwa perempuan tidak cukup mampu dan mereka tidak akan pernah menyamai laki-laki dalam harga dan kemampuan. Prasangka gender bukan hal baru dalam gereja. Bahkan masih banyak gereja yang mengkotbahkan bahwa perempuan diciptakan untuk melayani laki-laki. Padahal, tidak ada dasar alkitabiah untuk ide bahwa perempuan tidak dapat mengangkat suara mereka melawan ketidakadilan, menantang dosa dalam gereja atau memanggil orang-orang pendosa supaya bertobat. Tidak ada tuntutan skriptual bahwa ketika perempuan berdoa, bernubuat, memimpin ibadah, mengajar dalam seminar, membangun gereja baru, memulai rehabilitasi obat-obatan, melayani di penjara atau membawakan kotbah, mereka harus melakukannya secara kurang bersungguh-sungguh dibanding para laki-laki.
Peran Perempuan dalam adat Simalungun pada akhirnya turut mempengaruhi pola pengembangan dalam organisasi gereja/penginjilan, organisasi masyarakat serta organisasi politik.
Dalam catatan perkembangan organisasi di tanah simalungun, sejak 1929 telah berdiri Komite Na Ra Marpodah, Kongsi Laita 1931 di Sondi Raya. Tidak ada catatan khusus berapa anggotanya yang perempuan. Yang jelas ide serta kepengurusan organisasi dipegang oleh kaum laki-laki. Statistik jemaat-jemaat Simalungun pada akhir tahun 1940 memberi gambaran betapa mendesaknya menambah tenaga penginjil demi perluasan Injil Kristus di Simalungun. Tercatat pada 3 resort, 63 jemaat, 7994 anggota jemaat, 1378 calon baptis (anggota persiapan) dan sekitar 93.000 orang yang masih perlu di-Kristen-kan. Keadaan ini tidak sebanding dengan jumlah pendeta yang hanya 3 orang. Seiring dengan dibentuknya Parguru Saksi Kristus di Pematang Raya maka keterlibatan kaum perempuan semakin dibutuhkan.
APA YANG SUDAH BERUBAH
Sudah banyak pendeta wanita di GKPS
Banyak wanita yang aktif terlibat dalam kepengurusan dan pelayanan gereja sebagai syamas atau sintua, namun masih sedikit yang menjabat vorhanger.
Ada organisasi wanita GKPS yang spesifik menjalankan program-program pemberdayaan anggota jemaat GKPS khusus wanita
Adanya Naboru Parhobas sebagai bagian pelayanan konseling GKPS
Adanya WCC (women crisis center) sebagai bagian pelayanan GKPS

YANG BELUM BERUBAH
Belum adanya keterwakilan perempuan dalam sidang tertinggi GKPS bisa dijadikan indikator bahwa selama hampir 105 tahun perempuan belum mendapat tempat dalam ikut menentukan keputusan GEREJA. Dari 120 ribuan anggota Jemaat GKPS, keberadaan perempuan hanya diwakili oleh satu orang, yaitu ketua pengurus pusat wanita GKPS. Alasan yang sering diajukan adalah karena perempuan “dianggap“ tidak mampu melaksanakan tugas seperti laki-laki, masalah hambatan dan keberanian untuk menjadi pemimpin, disamping itu perempuan punya tanggung jawab mengurus suami dan anak-anak di rumah, sehingga khawatir sulit membagi waktu.
Alasan keterwakilan perempuan sudah dipenuhi dengan kehadiran para pendeta wanita, hanya merupakan alasan yang dicari-cari sebagai bukti dari kurangnya kesadaran dan pemahaman para pengambil keputusan, sebab kehadiran pendeta perempuan adalah mewakili jabatannya, bukan mewakili konstituen anggota jemaat perempuan.
Dalam acara-acara gereja, masih terlihat bahwa peran perempuan banyak mengurusi seputar konsumsi

PENUTUP
Perjuangan untuk mencapai kesetaraan gender, termasuk kebebasan perempuan untuk mengelola kehidupan dan tubuhnya, baik di dalam maupun di luar rumah tangga, membutuhkan waktu yang lama dan dukungan dari berbagai pihak. Dibutuhkan perubahan strategi mendasar dalam pemahaman baru akan Firman Tuhan dan Budaya Simalungun agar dapat menciptakan tatanan masyarakat yang adil bagi perempuan maupun laki-laki, jauh dari penindasan sesuai Kehendak Tuhan.

[1] Disampaikan sebagai bahan seminar Gender Berbasis Budaya Simalungun, Pelpem GKPS, 2008

Wednesday, May 07, 2008

RUMAH (ku)

Ada banyak hal tentang RUMAH (ku); sejarahnya, pemiliknya, orang-orang yang pernah berdiam, yang pernah berkunjung, kenangan, pendaran cahaya di jendela, bisikan angin di kisi-kisinya, semua jadi kesatuan yang menggirangkan.

Dari sebuah rumah akan muncul energi, kekuatan, spirit, inspirasi juga kedamaian.

Kita memilih rumah, namun juga rumah memilih kita..


Rumahmu enak buat tidur dan istirahat, kata teman-teman, ...
Rumah ini berhantu kata tukang parabola..dan aku hanya meringis lucu, karena hanya orang-orang bernyali kecil dan bermaksud jahat yang biasanya didatangi hantu rumah ini.
Benar, Rumahmu ada hantunya kata kekasihku.., dan mereka menjadi akrab karena sejenis :-) bahkan di masa depan mungkin kekasihku akan jadi presiden para hantu di Republik ini.
Tinggal setahun lagi aku menempati rumah ini karena pemilik sekaligus pewarisnya akan membongkar menjadi rumah yang lebih layak untuk berdiam sekaligus bisnis. Well, someday aku berharap akan memiliki sebuah rumah yang mirip, bukan bentuknya, tetapi karakter pemiliknya yang disiplin, murah hati dan penuh kasih. Sebuah rumah tempat bertanya, tempat belajar dan bertumbuh, sebuah tempat untuk menemukan kemanusiaan.
Mengapa aku suka rumah seperti ini? besar dengan halaman luas, jendela dan kamar yang banyak-padahal aku cuma sendiri. Karena kenangan akan rumah orangtuaku di masa kanak-kanak. Orangtuaku sering mengadakan pesta dan jamuan makan, sering mengundang orang diskusi dan bernyanyi, bahkan rumah kami dulu menjadi tempat penampungan orang2 kampung yang datang ke jakarta untuk sementara sebelum mereka dapat pekerjaan, pusat kegiatan budaya dan rohani.

Monday, April 28, 2008

RAME RAME MELAMAR JADI DPR

Caroline memang keras kepala. Banyak yang
melarangnya menempuh jalan sepi,
itu pula yang dipilihnya.
Jadilah kamu
tetap seorang pengembara, seperti maumu.
(dian matias saragih)

Kemanakah berlabuhnya para aktivis?
Kursi DPR, Kursi Penguasa atau...
Hati Nurani?

Ini cerita lama tapi terus menerus baru karena memang terus diperbaharui. Cerita nya ketika muda manusia itu penuh dengan semangat dan idealisme, lalu menjelang dewasa ditambah dengan wawasan dan visi misi, lalu setelah agak tua mulai melirik kemapanan dan takut tidak punya jaminan masa depan. Mulailah kegamangan merasuk sukma dan pilihan satu-satunya adalah bagaimana mencari uang dengan cepat untuk tabungan masa tua. Pilihannya ya jadi kepala daerah atau jadi DPR or dprd.

Apalagi di tengah kondisi negara yang makin ruwet ini. Jumlah orang susah semakin banyak, jumlah orang bunuh diri atau sakit jiwa makin ramai diekspos media. Mungkin karena sudah terhimpit dengan kesulitan yang terus menerus saya baca ada 4 kejadian gantung diri karena tidak sanggup bayar SPP :-(

Dan kita kehilangan solidaritas! Orang kaya mempertontonkan kekayaan nya lewat gaya hidup yang bikin ngiler para kaum miskin. Mereka dengan mudah menghamburkan duit di depan begitu banyak orang susah sehingga makin tumbuh kecemburuan.

Well, saya bukan alergi dengan orang2 yang mau duduk jadi legislatif-apapun motivasinya. Nyatanya banyak teman-teman yang sudah disana akhirnya lupa perjuangan. Saya tidak termasuk orang yang suka ngatain mereka-mereka yang mau bercokol disana atas sebuah kata: kemapanan atau cara mencari duit dengan cepat. What ever lah. Toh memaknai hidup ini adalah kebebasan masing-masing orang.

Namun harap diingat ketika masuk dalam sistem itu, banyak orang kesandung, lupa diri bahkan berubah jadi penjahat yang paling jahat. karena apa? karena selagi duduk menjadi dpr/dprd anda berpeluang menjadi bandit sehalus apapun pengertiannya menurut kata dunia.hiks

Monday, April 21, 2008

PEMILU TERAKHIR

another suitcase to another hall
take your picture to another wall
where am I going to?
( from Evita Peron-movie)
Ini tulisan dari seorang warga negara Indonesia yang pernah menjabat sebagai anggota KPU. Tepatnya hampir 5 tahun- sebab kira-kira 2 bulan lagi akan berakhir. So..setelah pemilu dpr 1 kali, presiden 2 kali, pilkada 1 kali, dan pemilu gubernur 1 kali, suerrrrrrrrrrrrrr inilah Pemilu Terakhir!

Rasanya seperti masih kemarin, ketika menjalani seleksi menjadi anggota tahun 2003. kami disuruh menulis makalah sebanyak 3 lembar dengan judul: jika saya menjadi KPU. Tentu saja hal ini sangat mudah bagi saya yang memang senang menggulirkan ide dalam sebuah tulisan.

Dan nyatanya semua hal yang saya tulis dalam makalah-yang juga merupakan janji saya jika terpilih menjadi kpu- hampir 98% menjadi kenyataan. Belum lagi wawancara yang melelahkan dengan menjawab pertanyaan dari 5 panelis dalam waktu yang ditentukan. Setelah dapat 10 orang dari 65 orang, maka dilakukan lagi tes wawancara terakhir oleh anggota KPU Provinsi. Hasilnya terseleksilah 5 orang, dimana saya satu-satunya anggota KPUD perempuan di Kota ini.

Tanggal 24 April 2008 menandai berakhirnya tugas dan tanggung jawab rekapitulasi suara dalam Pemilu Gubernur-Wakil Gubernur Sumatra Utara, saat dibacakannya surat keputusan pemenang pemilu bertempat di Hotel Grand Angkasa Medan. Wuihhh..,acara ini dijaga ketat 3000 personil polisi, mengingat pro kontra hasil quick count LSI yang telah menandai pemenang suara terbanyak yaitu pasangan No. 5.

Syukurlah semuanya berakhir dengan aman. Hanya saja masalah pemilih yang tidak terdaftar kerap mewarnai gejolak-gejolak unjuk rasa masyarakat yang tidak puas dengan hasil pemilu. Apa boleh buat..apa yang salah? nyatanya sistem pendataan pemilih belum juga bisa menghasilkan data yang benar-benar akurat, seharusnya data pemilih bersih dari data orang-orang yang sudah meninggal, orang-orang yang belum cukup umur, maupun orang-orang yang tidak diketahui keberadaannya. Dan kami kpud selalu menjadi sasaran tembak dan makian masyarakat karena dinilai tidak becus mengelola data pemilih. Padahal masalah pendataan pemilih menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah dengan dana yang cukup besar.

Saturday, March 15, 2008

TENTANG UKURAN YANG KITA PAKAI

Seringkali kita memakaikan ukuran KITA kepada orang lain sehingga ketika ukuran yang kita maksudkan tidak memenuhi standar kita, tidak pas, atau tidak cocok, maka kita menjadi kesal, jengkel bahkan frustasi.


Betapa bahagianya kita jika dilihat dan diukur seperti bagaimana kita ingin dilihat dan diukur. Nah!
Contoh kecil dalam kehidupan sehari-hari yang saya alami adalah ketika banyak orang mempertanyakan status kelajangan saya.
Mereka menganggap/berpendapat saya tidak berbahagia karena tidak punya suami (baca: seharusnya laki-laki yang seharusnya menjaga, mendampingi, menjadi teman tidur?, menjadi teman curhat? memberi bayi? atau mendampingi kalo jalan-jalan hi..hi) pokoknya menurut mereka hidup saya tidak pas dan belum lengkap!


Mereka menganggap PASTI saya kesepian dan tertekan karena hari gini "tidak punya pasangan seumur hidup" well, mungkin saja pendapat mereka tidak salah- namun juga belum tentu benar, karena mereka lupa, bahwa semua yang mereka pikirkan adalah menurut ukuran mereka bukan menurut ukuran saya. Apalagi bagi para perempuan yang bercerai dan mengalami kekerasan dalam rumah tangga, disia-siakan suami? bahkan tidak diberi nafkah...weleh (ini bahasan lain dalam feminisme). Bagi mereka sayalah manusia beruntung karena tidak mengalami penderitaan (?) seperti mereka.


Saya pernah mendengar kata-kata yang diucapkan dari mitra kerja saya, sebuah filosofi jawa tentang kebenaran: ada 3 kebenaran di dunia ini, satu kebenaran menurut diri pribadi atau diri kita sendiri, kedua kebenaran menurut masyarakat/orang banyak dan ketiga kebenaran sejati menurut Tuhan. Wuih..! Sejak saat itu saya santai-santai aja-apalagi setelah membaca 2 buku bagus yang membuka wawasan saya, yaitu berjudul dusta-dusta yang diyakini kaum wanita dan kebohongan yang diberitakan gereja terhadap perempuan. Yup, sejak berabad lalu, perempuan selalu dibohongi untuk meyakini dan memenuhi standar yang dipakai laki-laki :-)


Contoh lain, dalam bekerja kita sering menstandarkan ukuran kepintaran, kemampuan, sistematisasi berpikir, kegesitan kita bekerja, efisiensi dan efektifitas kita pada rekan kerja atau bawahan kita, sehingga ketika mereka tidak memenuhi standar kita bahkan ketika hasil kerja tidak sesuai dengan yang kita inginkan, maka kita jadi uring-urungan, kesal dan frustasi. Akhirnya keluar kata-kata yang akhirnya kita sesali :-(
Hmmm.., bisa gak ya merubah diri kita menjadi lebih santai?, menerima kekurangan orang lain, please deh rasanya gak enak banget kalo kita dipaksa menurut standar/ukuran orang lain! Lihatlah seseorang seperti mereka ingin dilihat, ukurlah mereka dengan ukuran yang mereka inginkan dan mari mencintai mereka apa adanya. Dengan begitu barangkali, anda akan lebih dicintai, paling tidak bisa membuat orang lain sedikit terhibur-ditengah keruwetan dunia ini.

Tindakan selanjutnya buatlah daftar orang-orang yang sudah anda sakiti dengan "ukuran standar anda" , yang selama ini terlanjur terucapkan. Kalau berkenan ya traktir mereka tanpa penjelasan he..he.
Siapakah diantara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? (matius 6:27)

Jika anda tahu bahwa Anda harus menunggu, mengapa tidak memilih untuk menikmati hidup ini sambil Anda menunggu? Mengapa tidak bergembira sementara Tuhan sedang bekerja mengubah sesuatu?

ANTUSIASME 2008

Sungai dan laut bisa merajai ratusan lembah adalah karena mereka lebih rendah dari lembah-lembah-lembah lainnya, maka mereka menjadi pemimpinnya.

sebab itu, kalau ingin mengatasi manusia bicaralah dengan gaya merendah, kalau ingin memimpin manusia, bicaralah dengan gaya seoloah-olah dirimu tertinggal di belakang.

Begitulah orang suci berada di atas tanpa memberatkan manusia lainnya, berada di depan tanpa menghalangi manusia lainnya, berada di depan tanpa menghalangi menusia lainnya maka seisi dunia merasa bahagia dan tak bosan mendorongnya.

Karena ia tak bersaing, maka ia tak tersaingi.. (laozi)