Wednesday, July 11, 2007

PENGALAMAN BERISTRI


Suatu sore yang dingin, Saya melewatkan waktu makan capcay goreng di sudut kota siantar yang dalam sebulan ini sering terjadi pemadaman listrik. Sendirian.Kadang kesendirian itu memang hampa tatkala kita membayangkan beberapa orang di sana mungkin menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat, keluarga bahkan bersama seorang suami atau istri baru.


Entahlah. Toh berita media akhir-akhir ini tidak sedikit memuat fakta ada istri yang mencipratkan soda ke muka suaminya, padahal baru menikah 4 bulan, atau seorang suami yang tega membunuh istri dan bayi dalam perutnya karena cemburu..padahal mereka baru menikah 6 bulan? Hiii!!


Seorang pendeta yang baru sebulan menikah tiba-tiba mengirim sms ke hp saya. Wah ada apa neh..? Singkat cerita kami janjian ketemu di rumah saya, dengan pesan tegasnya untuk membawakan mie goreng dan bir kaleng. ups! Siapa bilang pendeta tidak boleh minum bir?

Sudah sebulan kami menikah, katanya.

Aku berupaya membebaskannya dari pengaruh orangtuanya.

Tak jarang dia melawan aturan-aturan yang sudah kuumumkan

Dia terbengong-bengong (bahkan jangan-jangan menyesali) setelah melihat kondisi asliku

Mungkin aku ingin mengujinya dengan kondisi susah selama ini

Aku kehilangan semangat sebulan ini (mungkin karena asik memulai kehidupan baru -kataku)

Kami kan tidak harus melewati waktu bersama-sama?

Siapa bilang pendeta gak boleh nonton film porno atau kentut sembarangan?

Kenapa dia keberatan ketika aku ingin sendirian membaca buku dan menyuruhku tidur?

Aku tidak pernah mempunyai motivasi memperalatnya-kenapa orang-orang menuduhku demikian?

Wah orangtuanya sudah intervensi, demi supaya anak gadisnya tidak sengasara, mau memindahkan tugasku..itu sudah keterlaluan! aku terluka tapi masih kutahan

Aku kasihan melihat dia tidak senang dengan kondisiku yang tidak punya lemari dan tempat tidur layak, bahkan tubuhnya gatal-gatal

Apakah aku mampu membuatnya bahagia? apakah dia berbahagia bersamaku? sampai kapan dia bertahan?

So..(apakah sekarang dia baru sadar bahwa aku lah yang cocok menjadi istrinya?) Nop! Dia sangat mencintai istrinya demikian sebaliknya.
Tidak seperti kekasih abadiku yang bilang : "Bagaimana mungkin? Aku menderita bersamamu sebab perasaanku padamu tidak seperti perasaan seorang suami terhadap istri."
Bagaimanakah perasaan suami terhadap istri itu? Aku tidak tahu. Mmenjadi raja yang dilayani? Bergairah terus menerus? memujanya setiap hari sebagai pribadi tanpa kekurangan? ataukah hubungan antara seorang yang mengendalikan terhadap yang dikendalikan? seorang yang kuat melindungi yang lemah lembut? Ataukah hubungan penguasa dan si penurut?

Adakah film yang bisa kubawa? katanya (Maksud hati pendeta menghiburku malah aku yang menghiburnya he..he) Aku memilihkan sebuah judul "after the wedding" sebuah film tentang aktivis yang harus memilih antara pengabdian dan tanggung jawab keluarga. Kukatakan..mataku sampai bengkak-bengkak menontonnya. Semoga saja dia kembali semangat. Seorang istri baru yang menemani seharusnya memberi semangat. Entahlah aku tak yakin apa yang berkecamuk dalam hatinya.

Dia memasuki kamarku. Aku kesini hanya untuk mengenang. Namun keris di dindingmu menakutkan, katanya. Aku hanya tersenyum mengerti. Sebuah kenangan akan membuatnya hidup beberapa bulan ini. Kurasa. Aku hanya bersyukur keris itu ada disana, setidaknya malam ini.

Mungkin Pengalaman Beristri itu bisa dengan indah tertuang dalam sajak Mardi Luhung, seorang penyair dari Gresik yang membuka ruang sadar saya-menuliskannya untuk "kekasih abadi" saya yang kini tengah bingung karena kecemasan nya yang tidak beralasan "takut terpenjara oleh saya" well.., dalam bahasa sana kalo kita bilang membebaskan itu malah berarti memenjarakan secara tersirat. Entahlah.

PENGALAMAN BERISTRI

Telah aku loloskan sebagian ruhku, dan aku sapukan ke wajahnya.

Dan wajahnya yang putih kini sedikit terbakar. Dan ada gurat

di pipinya. Seperti gurat kecapi yang selalu aku petik di pagi

hari. Akh, apa memang dia mimpiku? Tapi mengapa terlalu nyata

bagi dirku. Dan apa memang dia bintangku? Di langit mana

dia pernah aku letakkan? di barat, utara, selatan ataukah timur?

Ketika berdekatan, nafasnya memburu membunuhku. Akupun mati

berkali-kali. Hidup berkali-kali. Apa dunia yang aku pijak

miliknya? Apa dunia yang aku buang dirampasnya? Ada merpati

yang selalu muncul dari badannya. Selalu mengibas. Selalu dan selalu

membuatku gemetar. Di depannya, apa aku lelaki atau

bukan? Dia mengalahkanku pelan-pelan. Pelan-pelan sekali.

Jika dia pergi, aku mendesir. Aku buru dia, dia pun balik

ke rumah. Dia mawar sekaligus duri. Duri tapi aku suka sekali

dilukai. Dan setiap dia berkalimat, aku hilang bahasa. Dia

memang ahli, aku ingin lebih ahli. Dia menampik, bagaimana aku

lebih ahli menampik? Seluruh bau miliknya terasa begitu melekat.

Tapi bagaimana seluruh bau milikku? Apakah juga melekatinya?

Dia memang memujaku, tapi aku hilang rupa. Tak berbekas.


Gresik, 2007 Mardi Luhung

Wednesday, July 04, 2007

MARI BERMIMPI LAGI…, MIMPI BARU


tamparan malaikat Tuhan
tidak menjadikanku seperti Herodes
yang mati karena tidak bersedia memberi hormat
dan aku mulai bermimpi lagi
dalam kebebasan dan ketidaksempurnaan
seorang manusia yang mencintai kepedihannya

(caroline pintauli)


Pernahkan anda bermimpi dalam tidur? Pasti pernah. Namun biasanya anda lupa mimpi anda semalam-jika tidak terlalu seru. Atau jika anda ditanya beberapa jam kemudian, anda tidak mengingat mimpi itu seutuhnya.

Namun saya tidak begitu. Saya masih mengingat mimpi saya sewaktu kecil, sewaktu SD, sewaktu bertemu malaikat, sewaktu mati-roh saya meninggalkan tubuh melesat ke udara, sewaktu bertemu beberapa hantu ataupun makhluk halus lainnya, sewaktu merindukan orangtua saya, sewaktu melihat kejadian lampau, sewaktu seolah bertemu leluhur saya yang menyimpan emas, sewaktu sebelum keponakan saya meninggal, sewaktu ribuan ular mengepung saya dalam sebuah pulau dan berbagai mimpi seru lainnya.

Kenapa begitu? Saya sendiri tidak tahu.

Kata orang, alam bawah sadar kita yang membuat kita bermimpi, termasuk keinginan-keinginan yang terpendam. Sebagian orang berkata, mimpi itu bisa merupakan firasat atau tanda kejadian yang akan datang, sebuah pesan, sebuah ekspresi rasa tertekan dan sebagainya. Namun bisa saja mimpi tersebut hanya sebatas mimpi, numpang lewat dalam pikiran kita sebagai bunga-bunga tidur. Karena tidak semua orang, sengaja meluangkan waktu atau mau menyisakan waktu untuk menganalisis mimpi-mimpinya- di tengah kondisi yang serba cepat berubah dan tak menentu ini.

Namun kejadiannya menjadi aneh, jika seorang pemimpi seperti saya tiba-tiba berhenti bermimpi selama lebih dari 60 hari. Ada apa gerangan? Apakah saya tiba-tiba nyenyak tidur ataukah memang tidak tidur?

Yang pasti ini disebabkan bukan karena saya nyenyak tidur. Bagaimana mungkin seorang yang sedang bersedih dan terluka bisa nyenyak tidur? Setidaknya orang-orang terdekat saya menganggap begitu. Mereka menyebut saya orang baik yang ketimpa kemalangan. Mereka menyumpahi dan menghujat orang yang melukai saya-seolah keberadaan saya, kondisi saya, diri saya tidak pantas dilukai atau mereka gagal menemukan suatu alasan yang cukup relevan untuk seseorang bermaksud menyakiti saya.

Yup. Hidup ini seolah memang tidak adil kata teman-teman saya. Kenapa saya yang termasuk orang baik mengalami luka ini. Dari segi pandang teman-teman saya, mungkin seolah benar. Namun bagi orang yang melukai saya, itu adil, karena kehidupan saya selalu dipenuhi sukacita, keberuntungan dan kebahagiaan. Maka dia berasumsi sedikit luka justru merupakan keadilan. Ataukah dia berasumsi, dengan kondisi terluka mungkin saja saya akan berubah menjadi orang seperti dia? Orang-orang yang mengalami kepahitan dan kesakitan.

Dari sebuah buku saya dapatkan kalimat ini : yang dapat kita lakukan hanyalah mencoba bangkit melampaui pertanyaan ”mengapa itu terjadi?” dan mulai bertanya “apa yang dapat saya lakukan sekarang, sesudah hal itu terjadi”

Mampukan kita memaafkan dan mencintai orang-orang lain di sekitar kita, kendati mereka telah melukai kita dan membuat hati kita kecewa karena ketidaksempurnaan mereka?

Tanggapan itu dapat berupa respon Ayub dalam kisah Alkitab menurut versi MacLeish-memaafkan dunia atas ketidaksempurnaannya, memaafkan Tuhan atas ketidakmampuan-NYA menciptakan dunia yang lebih baik, mendekati orang-orang di sekeliling kita dan melanjutkan hidup tanpa mempedulikan itu semua.

Seorang teolog abad ini pernah menulis :

Ya Tuhan, tiada cukup kami hanya berdoa padaMU untuk mengakhiri peperangan; Sebab kami tahu, dunia ini telah Kauciptakan sedemikan rupa sehingga manusia harus menemukan jalannya sendiri menuju perdamaian dalam dirinya sendiri dan dalam diri sesamanya.

Ya Tuhan, tiada cukup kami hanya berdoa padaMu untuk mengakhiri bencana kelaparan; Sebab Engkau telah memberi kami segala macam sumber cukup untuk menghidupi dunia ini seluruhnya, asal saja kami dapat memanfaatkannya dengan bijak.

Ya Tuhan, tiada cukup kami hanya berdoa padaMU, untuk membasmi prasangka kami sampai ke akarnya, sebab telah Kauberikan mata kepada kami, untuk melihat kebaikan dalam diri semua manusia, asal saja kami dapat menggunakannya dengan benar.

Ya Tuhan, tiada cukup kami hanya berdoa padaMU untuk mengakhiri keputusasaan, sebab telah Kauberikan kekuasaan kepada kami untuk menggusur kemelaratan dan menegakkan harapan, asal saja kami menggunakan kekuasaan kami secara adil.

Ya Tuhan, tiada cukup kami hanya berdoa padaMU, untuk membasmi wabah, sebab telah Kau berikan budi cemerlang kepada kami untuk menemukan obat dan penyembuhan, asal saja kami menggunakannya secara konstruktif.

maka kami berdoa padaMU, ya Tuhan,
berilah kami kekuatan, keberanian dan niat yang kuat,
untuk berbuat, bukan hanya meminta,
untuk menjadi, bukan hanya mengharap belaka. (Jack Riemer-Likrat Shabbat)


Tuesday, June 26, 2007

Menjadi Istri Kepala Daerah? No thanks!


malaikat di sampingku mengingatkan tinggalkan dirimu
setanpun disampingku menyuruhku untuk bersamamu
ku cinta kau
ku tak bisa tinggalkan mu ataupun bersama mu

Suatu siang yang panas, ketika saya mengantri makan siang di sebuah restoran..datang sebuah sms.

‘Kak, lagi dimana? Ini kami pemuda gereja mau ketemu sekarang.’
Wah..ini permintaan atau perintah? Pasti urgent.
Ya sudah, mumpung saya ada waktu-karena di kantor mati lampu maka saya balas sms mereka.
‘Oke. Saya lagi di kota, kira-kira satu jam lagi, mau ketemu dimana?’
Sambil makan siang, saya berpikir…hmmm ada apa nich, tumben pada mau ketemu semenjak terakhir..kapan itu? bulan juli tahun lalu? Apa mereka mau pada mohon tinggal di rumah saya karena diusir?
Datang lagi sms ‘kami di sekretariat, kalau bisa kakak kemari atau mau ketemu dimana?’
Buset. Lagi-lagi ini permintaan atau perintah?
Saya balas ’oke bentar lagi saya datang.’

Setelah menghabiskan makan siang saya menuju kesana. Benarlah ternyata mereka mau bertanya apakah rumah kontrakan saya bisa dijadikan kantor untuk ruang baca para pemuda gereja-coz mereka butuh kantor yang luas untuk sekitar 50 orang.


Hmm kalau saja mereka minta hal ini sejak dulu-dulu tentunya jawaban saya akan berbeda. Bahkan itu cita-cita saya menjadikan rumah ini semacam pusat bertanya dan pusat baca buku.

Namun sudah banyak yang berubah semenjak saya trauma membuat rumah kontrakan saya sebagai Rumah Terbuka (baca: open house). Yang barang-barang hilanglah, yang buku dipinjam tidak baliklah, yang sembarangan pakai telepon lah..interlokal di siang hari lagi! Belum lagi soal orang-orang yang keluar masuk rumah, sehingga mengganggu privacy dan ketenangan saya, yang menjadikan rumah ini tempat kencanlah, bahkan pernah saya memfasilitasi pertemuan mulai dari makanan- yg saya masakin, plus cuci piring dan melayani layaknya pelayan restoran.Uh! Mau apa lagi anak-anak muda ini?


Kami meneruskan obrolan sambil menunggu listrik menyala. Dalam 2 minggu ini memang kota siantar menjadi kota menyebalkan. Bayangkan jam 3 pagi setiap hari listrik mati secara bergilir, baru menyala sekitar pukul 10 pagi..saat saya berangkat ke kantor maka pemadaman bergilir mengenai kantor saya sampai sekitar pukul 14. Lalu sambil menunggu listrik nyala di kantor maka saya mengerjakan kliping berita dari koran dan membaca buku. Jika belum menyala maka saya menyempatkan diri ke rumah sekedar mengecek. Ternyata di rumah pun listrik kembali mati hingga pukul 6 sore atau bahkan pukul 7 malam. Kalau masih beruntung maka tidak akan ada lagi pemadaman sampai jam 3 pagi, jika sedang sial maka sekitar pukul 10 malam akan terjadi pemadaman lagi!!!!! Ya ampun itupun kalau masih untung sekalian air ledeng mati juga dari pagi hingga jam 11 siang. Kalau ledeng pas nyala kita sudah ke kantor dan tidak ada yang menunggu air. Jadi bayangkan betapa menyebalkan kota siantar akhir-akhir ini.


Walhasil kami ngobrol ngalor ngidul siang itu, ditemani dua pendeta yang masih lajang. Dari mulai soal simalungun, sejarah sampai politik. Soal gereja, soal klenik, soal pernikahan, soal cinta, soal roh leluhur, soal menjadi orang besar, soal goliat yg pernah dalam sebuah film dikalahkan oleh xena.
Wah yang dibodohi film atau alkitab yang salah.hi..hi..hi.


Ngobrol punya ngobrol akhirnya kita sampai pada pembicaraan menggelikan soal istri kepala daerah. Mau gak atau pernah gak punya cita-cita jadi istri kepala daerah? Tanya kenapa? Katanya menjadi istri kepala daerah, jika gatal.. menggaruk pun harus punya “metoda halus dan sopan”
Oh ya? yang bagaimana itu metoda halus ? tanya saya.

Yach..musti pelan-pelanlah..jangan kasar-kasar macam perempuan kampung, menggaruk keras-keras bahkan sampai diangkat pula bajunya di depan publik. Hi..hi..hi saya tidak bisa menahan tawa membayangkan kalo saya jadi istri pejabat..pasti banyak mendapat protes karena penampilan saya yang cuek, sambil mengingat-ngingat apa kebiasaan jelek saya di depan umum.


Ada satu lagi kata mereka. Kalo jadi istri kepala daerah itu gak boleh tertawa ngakak, gak boleh 1]congok kalo makan.

Wakakkaaaaak…!!! tawa saya meledak. Ingat ketika jamuan makan malam Bulan Agustus tahun 2003 dalam rangka Hari Kemerdekaan, saya sempat dikomentari Pak Walikota saat itu yang bilang: wah banyak sekali makannya?


Walau cuma becanda..namun artinya dalam. Rupanya trik kalo jadi pejabat-termasuk juga menjadi KPUD itu harus makan di rumah dulu, sehingga ketika jamuan di depan publik, hanya mengambil makanan sedikit saja-sekedar nyicip istilahnya, biar tidak kelihatan rakus dan tidak kampungan he..he..he. Lebih parah lagi kalau ada istri kepala daerah yang belum apa-apa sudah main bungkus makanan aja, karena katanya seharusnya ibu kepala daerah harus beda, tidak seperti ibu-ibu siantar pada umumnya. Ah, enggak semua begitu.
Jangan-jangan istri kepala daerah itu tidak boleh berperut buncit. He..he..he lagi-lagi saya tak tahan menahan geli. Lha iyalah..mosok jadi istri kepala daerah gak punya duit buat sedot lemak, operasi plastik dsb.
Ngomong-ngomong perut buncit saya punya pengalaman lucu sekaligus menjengkelkan. Bayangkan setiap mau masuk menyerahkan kertas boarding di ruang tunggu, hampir selalu pegawai nya bertanya: “Ibu sedang hamil?”
Mula-mula saya jawab ” Ah tentu tidak.”

Besok-besok lagi ada yang bertanya serupa saya jawab :” Ah tidak, saya masih perawan kok!” dan raut wajah mereka menjadi merah padam.


Tapi yang terakhir kemarin, ada juga pegawai bandara yang bandel dan kurang ajar menurut saya. Kebetulan saya bersama teman lama yang menemani di ruang tunggu karena pesawatnya transit di jakarta, tentu saja kehadirannya membuat saya jadi lebih berani.
“Maaf ibu sedang hamil?”
“Oh tidak.”
“Lho kok perut ibu besar?”
Mana saya tahu, tanyalah Tuhan?” dan kami ngakak sepanjang sore itu diiringi muka masam petugas. Rasain lo!

Masih mending jadi istri walikota atau bupati, jadi istri Gubernur apalagi! Jangan-jangan kita bersin pun musti dengan tehnik halus-seperti menggaruk (bagaimana pula bersin dengan tehnik halus?) Apalagi saya punya kebiasaan makan bakso dan es kelapa di warung pinggir jalan, makan es krim sambil jalan kaki, nongkrong sama abang becak dan pedagang kaki lima.Oalah..


Kenapa begitu?, karena dengar-dengar mantan kekasih saya mau jadi gubernur bahkan wakil presiden hi..hi no thankslah! Saya tidak berbakat untuk itu. Yang paling membahagiakan saya adalah benar-benar orang yang bisa menolong orang lain, jadi rakyat yang walaupun miskin tapi merasa terhormat karena dapet duit bukan dari merugikan orang lain.


Bukan seperti pejabat-pejabat sekarang..pas udah masyarakat ribut baru turun ke lapangan melihat penderitaan rakyat, berkantor di daerah bencana untuk sekedar tebar pesona, agar mendapat simpati publik, agar bisa dipilih lagi tahun 2009. Uh..terlambat Pak, Bu!


Sebenarnya bukan hal-hal teknis seperti itu yang membuat saya ANTI menjadi istri kepala daerah atau apapun yang berhubungan dengan kekuasaan. Korupsi dan Selingkuh Bo!. Itu sudah menjadi hal lumrah bahkan jangan-jangan dilegitimasi masyarakat. Sudah menjadi rahasia umum bahwa menjadi kepala daerah (baca: pemegang kekuasaan) sangat rentan dengan godaan-godaan duit, baik karena terpaksa, solider ataupun rakus (baca: khilaf). Yang alasan lobby lah, alasan gak enak menolak fasilitas pejabat, yang menyenangkan bos lah, yang demi kebaikan korps lah, yang demi menutupi biaya-biaya tak terduga, biaya tamu, ikut trend biar keren dsb.


Makanya kemaren setelah saya tahu mantan kekasih saya punya minat dan ambisi menjadi orang nomor satu di daerahnya, maka saya lebih baik mundur-tepatnya mundur teratur and tau diri, karena tidak bisa memenuhi syarat-syarat beliau, tidak bisa memenuhi impiannya (baca: ditolak mentah-mentah karena saya bukan tipe idealnya) No thanks, karena saya yakin, saya akan berubah menjadi seorang istri/perempuan yang kehilangan identitas. Trust me. Apalah arti duit dan kekuasaan tetapi hati tersiksa karena dijadikan obyek pendukung untuk alasan-alasan politis, apalagi kalau sejak awal sudah ada rencana mau poligami.


Maksud lo si anu…? Wakakakkkkkkk….! Plis dech!


Ah..saya merindukan pengacara kampung yang dulu itu…



[1] Congok bhs medan = rakus

Sunday, June 24, 2007

DIA tidak cocok..




Ini kutipan yang menyukakan hati-diambil dari buku A. Camus-Pergulatan dengan Absurditas. Buku yang bagus dibaca untuk orang yang ingin kembali menemukan Raksasa dalam dirinya.



Kutipan chestov yang pantas mendapat perhatian: "Satu-satunya jalan keluar yang benar adalah justru dimana menurut penilaian manusia tidak ada jalan keluar. Jika tidak, mengapa kita membutuhkan Tuhan? Kita hanya berpaling pada Tuhan untuk memperoleh yang tidak mungkin. Sedangkan untuk hal yang mungkin manusia saja sudah cukup."


Pada akhir analisisnya yang penuh gelora ia menemukan absurditas dasariah dari seluruh eksistensi, Chestov tidak mengatakan: "Inilah hal absurd", melainkan Inilah Tuhan: kepada-Nyalah manusia pantas menyerahkan diri, meskipun Dia tidak cocok dengan kategori rasional kita yang manapun."


Friday, June 22, 2007

KEKASIHKU PULANG





O, jiwaku, janganlah mengharapkan kehidupan abadi. tetapi jelajahilah segala yang mungkin sampai tuntas (PINDARUS, Piticus ke-3.)



Beribu kejanggalan mangkus dalam sembahyang sepi ketika diri bekerja dalam diam tak seorang pun kan tahu the trouble that I face. Hanya nurani beku terbungkus puisi biru. Ke hadirat Sang Maha tak bernama dan telah kucoba untuk menamai sepanjang abad perjalanan usia.

Ini adalah semacam kado yang terlambat datang. Semoga kau menemukan Ruh yang baek untuk menjadi jodohmu. Meski kau pernah jadi belahan Ruhku di masa kehidupan lampau. Bukankah kita dilahirkan kembali bukan untuk mengulang-ulang kesalahan masa lampau melainkan untuk memperbaikinya? Aku tak cukup baik bagimu. Aku terlalu dekil untuk bisa mewujudkan mimpi malaikat, dahyang, demits, jin, atau apa pun lah namamu – andai bisa kunamai – seindah kamu. Aku ini cuman seorang pemimpi yang tak pernah jera untuk mengulang-ulang mimpi. Telah kutandai perjalanan sejarah dengan beribu impian tentang indahnya penciptaan. Mungkin aku terlalu capek melawat perjalanan jaman ke jaman. Selalu saja isyarat-isyarat semu yang kusendiri tak pernah tuntas untuk memahami. Telah kureguk cawan perjanjian hidup abadi. Sepanjang jaman berganti wujud berganti bungkus. Telah kulahirkan beraneka ragam dongeng misteri yang kusendiri tak tahu pasti, ngapain kulakukan semua itu? Setapak ini kadang begitu terasa panjang dan berliku namun kita toh musti menyusurinya demi bersetia pada nurani dan gerak hidup yang paling dalam.

Memang sudah lama bahkan terasa sperti terlalu lama tapi tetap saja kesadaran itu hinggap dan lepas silih berganti. Bagai panel-panel listrik dengan swicht off-on yang tak jelas bagaimana mengoperasikannya.

Selamat pagi Bunga. Hujan sepanjang malam membuatmu semakin berseri meski lekang dalam kepahitan puja
puji.


KEKASIHKU PULANG

Kekasihku pulang. Naik becak bersandal jerami.Setelah sekian lama pergi.Wajahnya nampak kurus. Rambut ikalnya memanjang sebahu.Sementara matanya berkilat-kilat tajam.Ia tak cerita sudah melanglang kemana saja setelah pergi sekian abad. Hanya semua orang sudah tahu.Bahwa hampir separuh bumi telah menjadi miliknya.Bekal dua keping ikan lima ketul roti serta seikat dinar yang dibawa dari rumah telah ia putar dalam perdagangan.

Sudah kaya ia sekarang.Tapi baju, jubah dan sandalnya masih tetap sama dengan ketika ia berangkat.Lalu untuk apa kekayaan itu? Raut mukanya tetap tak mengunjukkan roman bahwa ia amat kaya.Bau tubuhnya pun masih biasa saja sama seperti dulu: Sedikit apak oleh keringat. Tak ada aroma parfum sebagaimana aroma tubuh orang-orang kaya. Hanya sorot mata dan lekukan senyum di bibir itu yang menyatakan bahwa kekasihku bukanlah orang miskin.

Apa saja yang sudah kau kerjakan duhai kekasih? Hingga kau bisa sedemikian kaya?

Tak ada yang kukerjakan. Aku hanya jalan dan berjalan, bertandang ke rumah orang-orang, menyapa dan menyapa.Kutanyakan khabar mereka.Bagaimana cara hidup mereka.Apa saja yang telah orang-orang itu lakukan ketika jauh dari rumah. Hanya itu. Tak ada yang kukerjakan.

Sudah barang tentu tak seorang pun percaya apa yang ia katakan. Semuanya ingin mendengar cerita-cerita hebat dahsyat dan muskil;ternyata kekasihku tak menceritakan hal-hal itu.

Aku sendiri tidak tahu kalau orang-orang mengatakan bahwa hampir separuh bumi telah menjadi milikku.Kalian lihat sendiri aku pulang tak membawa apa pun selain baju dan sandal yang kubawa dari rumah ketika aku pergi dulu?

kau jangan mengada-ada. Sudah bosankah dengan puja-puji? Telah muakkah akan segala gelimang kekayaan? Kenapa tak kau pakai jubahmu yang paling mentereng hingga kami semua dapat yakin dan turut menikmati kekayaanmu? Atau kau telah menjadi sedemikian kikir. Tak hendak membelanjakan sedikit uang bahkan untuk sepotong baju indah yang paling sederhana sekalipun?

Keindahan itu terasa subtil..ketika hati hinggap pada wilayah tanpa peta..dan kakimu pun kupu2 mungil..cekatan merangkai mimpi,kereta datang meski tanpa lintasan.Sembari bergumam sendiri, Ia hanya tersenyum tak sekata pun membalas.

Dan semuanya pun kembali seperti sediakala seperti senja kala.Seperti Ayub setelah melewati masa-masa suram maka dipulihkanlah martabatnya, kekayaannya, kesehatannya, ketenarannya, serta kemuliaan hidupnya berlipat-lipat kali seperti sebelum mengalami kesuraman atas kehendak HidupNya.Bebatuan keras tanpa meragu. Ya Sobatku memang batu karang tak terpahami. Ia memegang teguh sesuatu yang bahkan tak bisa dipahami oleh mereka yang telah membuka pintu keabadian.



Chrisman Hadi
(dikutip dari e-mail..uh jangan marah say..)



[1] Sakjok Jumblek, adalah ungkapan khas dialek medok khas Kota Surabaya, yang kurang lebih berarti, ekspresi terheran-heran karena selama hidup belum pernah menemui atau mengalami sesuatu yang baru saja ditemui atau dialaminya. Misal, ketika dulu pertama kali saya ditraktir seorang kawan untuk menginap di hotel bintang lima. Maka saya akan menyatakan keheranan saya dengan ungkapan,”Sakjok Jumblek aku belum pernah menginap di hotel berbintang lima”.
[2] Sampai rasanya seperti mati berdiri dan jantung berdebar keras.
[3] I never deny U. Why I always hear your voice? You never know, I knee U, You never knee

Wednesday, May 30, 2007

MENIKAHLAH KARENA CINTA




"jangan pernah mencintai nabi, malaikat, apalagi iblis..sebab kau akan hampa, palsu dan sunyi" (CP)

Menikahlah karena CINTA. Jangan pernah menikah karena orang lain, ingin menyenangkan orang lain, ingin mewujudkan mimpi orang lain, apalagi mimpi negara kacau ini, ingin mewujudkan kepentingan-kepentingan atau suara-suara selain dari suara hatimu sendiri.

Menikahlah karena dia lah orang yang kau cintai lebih dari apapun di dunia ini, bukan nomor dua setelah karirmu, kaul mu, sumpahmu, pekerjaanmu, ambisimu, cita2 mu, keluargamu, teman2mu.

Menikahlah karena telah memilih untuk berbagi kehidupan bersama orang yang tepat...

'laki-laki SEMPURNA adalah laki2 yang bisa berada dimana saja, namun MEMILIH untuk berada bersama mu-karena dengan begitu, hidupnya menjadi lebih baik'


carilah dia sampai ke ujung dunia...

Wednesday, May 02, 2007

HIDUP DARI PUISI DAN CINTAMU




Pergilah kemana angin musim membawa kerna engkau toh kumbang betina meski sengatmu masih rapuh kau toh bakal betina perkasa yang menunggang naga. Ini sayap untukmu terbang dan bahu untuk berkeluh kala datang sedu sedan. Banyak hal kadang datang tak terduga.



Mengenali cinta adalah mengenali luka..belahlah kayu maka kau temukan ia..aku ini bak petani tua bertangan goyah...yang tak mampu menepis rumput-rumput liar tumbuh di ladangku..laki-laki itu berkaca pada malam, matanya menyala marah menatap luka-luka negri..menunggu dan menunggu pada kesantunan malam...dan benar ia memang takut dicintai karena itu bisa melukainya dengan dahsyat..dan kamu telah tau tanpa kau sadari.



Serenai ombak terlanjur dikenali, saat matahari ta lagi menyengat..kita berdiri di atas kelepak musim, sambil kuhujat waktu kerna datang terlalu lambat kemudian kuusir ia untuk pergi bekerja pada lupa..kerna denganmu hendak kucari jejak akar lampau...andai bisa kujelaskan.


Ketika kau berwujud pagi, ia fajar yang memberimu peta hidup..ketika kau menjadi malam, ia senja yang mengantarmu ke gerbang kalam..meski tak terucap.


tak hendak aku menyuruh pigi perempuan cerdas dengan kalimat seindah milikmu...aku tak pernah tau persis apa yang bakal terjadi meskitanda-tanda kehadiranmu sudah kuketahui.


kala si cantik lucifer pergi dari rumah angin..ia pamit padaku untuk segera kembali..tatkala singgah di seratus hati maka ia enggan pulang maka Kucari ia di ayunan biduk Besar..Kuacak-acak nebula untuk menemukannya kerna ranjangku dingin kala ia tak ada. Dan bumi pun bergetar takmampu menanggung amarahKU..lalu akupun tak peduli pada yang hidup apalagi si mati.Kugenggam galaksi maka remuklah matahari kerna HIDUP ku tak bisa hidup tanpanya..dimana dirimu lucifer kekasihku?


Pergilah ke tempat dimana peri-peri tinggal untuk mengajarimu bermimpi...dimana bintang-bintang bersinar sepenggalah tingginya..maka bianglala membuat matamu bersinar jernih


Sebuah tempat yang memungkinkan untuk memperlakukan tubuhpak peta buta, mencari lekuk liku sungai lembah ngarai dijejaki jejari intuitif..uh apalah makna puisi.


Di batas mana peta ini hendak tergambar...cerita sarat kisah jelas terasa meski tak teraba..mengenang rumah zaman meretas di senjakala terbelenggu..kenapa harus kau kenakan duri tajam kalau di kebunku bermekaran bunga mahkota..hanya sebatas jarak?



Jangan mengguruiku agar hidup tanpa tembakau dan alkohol kerna bila hidup benar bermaksud memberikanku kamu untukku maka aku ingin mati mendahuluimu..kerna aku tak kan mampu menangisi kepergianmu.

Mampirlah ke tempat istirahKu..tlah kusediakan bejana tanah liat untuk bantal bagi kaki letih meniti jalanan...demi gerak hidup yang paling dalam..kerna tlah kikirim selarik sajak pada si mati di kalam teduh...tempat yang hidup menjadi mati..terkubur mencandai hidup...maka kusampaikan selamat datang: Cinta..di rumah berbata merah..tanggalkan kasutmu biar kuminyaki kakimu dengan wewangian tanpa rupa..kemudian Kamu dan aku menjadi kiTa yang memanjang meluas melebar...dan Kau tak lagi sepenggalah tinggiKu.


Selamat tidur kutilangku....kita tlah bicara tentang angsa-angsa milikmu, tentang akar-akar lampau, tentang anak-anak mungil yang barangkali dilahirkan, tentang kata-kata yang tak terucapkan..hari-hari bernafas tanpa kepastian...tapi setidak kita tlah mencumbui waktu dalam kesantunan malam..biarkan saja ia menggeriap jadi ombak.

"Wiji Manekung" (april-mei 2007)


Wiji Manekung adalah pertapa gendeng yang tadinya kukira merampok seluruh isi duniaku, namun kini kusadari bahwa yang ada padaku, ada padanya. Aku memanggilnya Si Alis Tebal dengan Jejari Intuitif, Pemabuk Kesantunan Malam yang selalu menantikan Purnama sambil membakar dupa..dan didadanya kepedihanku tersedot..berlalu seiring lenyapnya bulan diganti mentari esok.


Memikirkannya selalu berimplikasi pada " Runaway Brides", ketika Julia Roberts –calon pengantin yang suka lari meninggalkan pengantin pria di altar-karena keraguan, akhirnya kembali berlutut dengan kalimat yang diajarkan Richard Gere; untuk mengulang purpose nya, seperti ini : Saya tahu begitu banyak gagalnya cinta dalam perkawinan, bahwa tidak ada jaminan bahwa setiap pasangan akan saling mencintai selamanya, sama seperti halnya keyakinan bahwa tidak mudah memelihara cinta. Tetapi satu hal yang pasti dan saya yakin : saya akan mati dengan penyesalan jika tidak pernah mencobanya dengan mu. Maukah kau menikah denganku?







Love comes to those who believe it....












Siapakah diantara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? (matius 6:27)

Jika anda tahu bahwa Anda harus menunggu, mengapa tidak memilih untuk menikmati hidup ini sambil Anda menunggu? Mengapa tidak bergembira sementara Tuhan sedang bekerja mengubah sesuatu?

ANTUSIASME 2008

Sungai dan laut bisa merajai ratusan lembah adalah karena mereka lebih rendah dari lembah-lembah-lembah lainnya, maka mereka menjadi pemimpinnya.

sebab itu, kalau ingin mengatasi manusia bicaralah dengan gaya merendah, kalau ingin memimpin manusia, bicaralah dengan gaya seoloah-olah dirimu tertinggal di belakang.

Begitulah orang suci berada di atas tanpa memberatkan manusia lainnya, berada di depan tanpa menghalangi manusia lainnya, berada di depan tanpa menghalangi menusia lainnya maka seisi dunia merasa bahagia dan tak bosan mendorongnya.

Karena ia tak bersaing, maka ia tak tersaingi.. (laozi)