Sunday, September 10, 2006

BUTET LOTING

Saya alat Pemantik? (Butet Loting) Tadinya saya tidak tahu apa arti kata “loting” (bahasa simalungun) sampai Pak Frans Purba menuliskan ini :Saya jadi teringat suatu postingan nya CP - menanyakan artinya "loting." Dulu sudah mau saya jawab..lalu lupa. Kalaupun sudah tahu, syukur, akan tetapi saya ulangi, siapa tahu ada yg belum tahu.Loting atau santik (bahasa silima kuta) adalah alat untuk membuat api. Yaitu dengan memukulkan dua buah batu (karang) yg sangat keras. Batu yg satu ada ditangan sebelah kiri (besar) dan lebih lunak sedikit dari batu yg dipegang sebelah kanan (lebih kecil), lalu dihantamkan sampai mengeluarkan percikan api dan berbunyi "TING". Batu itu diperoleh setelah melalui pilihan dan dicoba coba, apakah mampu mengeluarkan percikan api. Ketika terjadi percikan api, maka percikan api itu harus dengan sigap ditampung oleh suatu bahan yg dinamakan "orbuk"(serbuk) yg diambil dari serbuk-serbuk kering pohon enau. Ketika ada percikan api yg ketangkap oleh serbuk, maka dgn sigap pula kita tiup-tiup dengan penuh perasaan agar membesar dan membara, lalu baranya itu cukup besar untuk ditempelkan diujung rokok lalu dihisap. Rokok dulu adalah tembakau dengan dibalut kulit jagung. Lalu orang pun merokoklah dengan nikmatnya. Apabila maksudnya lebih daripada merokok, yaitu utk menyalakan api buat masak, maka percikan tadi harus lebih dibesarkan dengan serbuk yg lebih banyak, lalu bara dalam serbuk itu dipindahkan ke daun-daun kering yang sudah digilas-gilas dengan tangan agar halus. Ketika baranya cukup lalu ditiup sampai menyala, dengan begitulah dulu orang simalungun menciptakan api. Pada umumnya kedua batu tadi dimasukkan kedalam satu kantong khusus bersama persediaan orbuknya, dipaket dengan kantong tembakau dan daun jagung atau daun pusuk, jadilah itu menjadi barang khas bapak-bapak untuk dibawa ke mana-mana. Seingat saya loting itu mulai ditinggalkan sekitar tahun 1951 dengan masuknya korek api made in Swedia, yang terkenal dengan nama "solok cap semut." Lalu pada tahun 1959 didirikanlah pabrik korek api BDB di Pematangsiantar. Saya masih mengalami memakai loting, terutama walaupun dulu korek api sudah bisa dibeli, sering tidak terbeli.

Horas,

Mungkin yang lebih tepat adalah begini iban: Butet adalah panggilan kepada anak perempuan yang kecil, manis lucu dan manja dan sebagainya, sedangkan Loting adalah alat yang dipakai untuk menghasilkan api. Jadi "Butet Loting" artinya seorang perempuan yang manis, manja dsb tetapi bila di sottik (gesek) dapat menimbulkan api, kebakaran dan bahkan musibah Gitu kalee ... jangan marah ya

Fajarta

Thursday, August 17, 2006

Melakukan hal kecil dengan cara BESAR



Kita ini hanya makanan cacing, friend!

Percaya atau tidak, kita semua di ruangan ini, suatu hari nanti akan berhenti bernafas, membeku dan mati. Karena takdirmu belum ditentukan, mengapa tidak menjadikannya luar biasa dan tinggalkan warisan abadi?

Sementara kamu melakukannya, ingatlah hidup ini adalah suatu misi, bukannya karir. Karir adalah profesi. Misi adalah tujuan. Karir menanyakan,”Untungnya untuk saya apa?” Misi menanyakan, “Bagaimana caranya agar saya bisa membuat perbedaan?’

Misi Marthin Luther King adalah memastikan hak sipil semua orang. Misi Gandhi adalah membebaskan 300 juta orang India. Misi Ibu Teresa adalah memberikan pakaian kepada yang telanjang dan memberi makan kepada yang lahir.

Ini adalah contoh-contah yang ekstrim. Kamu tidak harus mengubah dunia untuk punya misi. Seperti yang dikatakan oleh pendidik Maren Mouritsen, “Kebanyakan dat kita takkan pernah melakukan hal-hal besar. Tetapi kita bisa melakukan hal-hal kecil dengan cara yang besar.
(dikutip dari 7 habits for teens)

BERBAHAGIA MEMILIH KERIKIL SENDIRI



Berbahagialah orang yg punya kampung di simalungun, jadi bisa ditanya dimana kampungnya? pengalaman saya sendiri cukup aneh dan menyebalkan.

Kalo ditanya dimana kampungya? bingung mau jawab apa. kalo jawabnya sondi raya: salah.
krn itu kampung bapak saya.boro-boro sok ngaku tapi gak tau apa ada berapa sungai atau kebun.

kalo ngaku jakarta: eh malah dikatain sombong, sok ngaku orang jakarta-seolah gak ngaku dari kampung.Tapi kenyataannya saya memeng gak punya kampung. Kalo ngaku simalungun-tapi gak bisa ngomong simalungun aktif dicemoh.he..he, kadang dianggap setengah simalungun krn ibu orang karo, kadang diusir krn dianggap bukan simalungun :) lagi-lagi kata yang
paling cocok diucapkan: makanya..belajar!
buset dah!

Pas mau belajar eh malah ketemu simalungun brengsek yg kerjanya berantem, subil, penipu, sok tau, sombong, munafik dan penakut-krn bisanya ngomong di belakang :)
thank GOD,kalo dikasih Tuhan seorang bapak kandung yg baek,yg mendidik dengan keras hingga bisa mencapai kondisi spt sekarang. Harus diakui selain didikan orangtua sejak kecil yg menanamkan nilai-nilai positip, seorang anak juga harus mencari jalan "kerikil"nya
sendiri untuk menempa kekuatan menjalani hidup.

Syaratnya: jangan kasih duit banyak-banyak! krn duit berlebih akan membuat orang iseng beli sana-sini akhirnya malah jadi ukuran diri. Saya masih ingat ketika pulang dari praktek kuliah lapangan disuruh bapak saya cerita bagaimana mulai dari nanam padi sampe jadi beras.
hi..hi krn saya kurang memperhatikan jadi gak bisa jawab. Bapak saya langsung nyuruh saya balik ke lokasi dengan pulang membawa catatan lengkap.Katanya dulu beliau sejak kecil biasa kerja keras di sawah..kok enak2 nya anak sekarang tinggal makan beras!

atau ketika SMP minta duit jajan lebih, bapak saya bilang kalo uang jajan saya sehari itu lebih besar dari gaji seorang buruh yang berdiri selama 20 jam sehari.
atau saat SMA menjelang sipenmaru, kalo tidak lulus perguruan tinggi negri, bapak saya akan nyuruh saya jualan minyak saja krn gak mampu membiayai kuliah di swasta.

Tapi yg paling saya ingat adalah nasehat beliau: jika kita mendapatkan uang dari menindas orang, merugikan manusia lain atau dengan tidak jujur maka akibatnya akan terjadi pada anak keturunan kita.

sometimes seorang bapak juga harus "tega" mendorong borunya untuk dibiarkan keliling eropa sendirian saat usia 24 thn dengan bhs inggris pas-pas an demi keberanian dan kemandirian. Dan sepulangnya dari sana He said: Saya bangga punya anak perempuan sehebat kamu!
Hanya sebuah kalimat pendek namun bisa "mengantar" seorang anak terbang tinggi dan tegar melalui apapun dalam hidupnya.he..he

Inilah yg jarang dilakukan bapak-bapak saat ini:memuji anak sendiri. please deh..yg ada cuma kalimat : bapak lebih tau?, orangtua lebih pintar?, memangnya kau tau apa? jangan sok pintar, saya lebih pengalaman, tidak ada yg sehebat bapak, anak kecil tau apa? dst sikap seperti itu membuat anak jadi gak berani berjuang dan terlalu rendah menilai diri.Padahal saya rasa setiap anak di dunia ini ingin diterima apa adanya.

Kalau saja beliau tahu bahwa saya sudah pernah mempresentasikan rancangan uu sumberdaya alam di depan para mentri,rapat dengan DPR- RI, mengorganisir seminar nasional,berfoto bersama Walden Belo (cuma berfoto..:), tidur di kandang babi, minum air hitam bercampur kotoran manusia,sendirian di tengah 900 hektar hutan dengan bahaya ular phyton,berjalan 7 jam melewati jurang, menulis di halaman 4 media terkenal, menjadi delegasi di asia pasifik...dan entah apa lagi.(jadi perempuan simalungun satu2 nya anggota kpu mah gak bangga) ah seandainya saja...!
Berbahagialah orang yg punya kampung.
Berbahagialah anak yang mendapat pujian dari seorang bapak.
Berbahagialah orang yang punya mimpi dan berupaya mewujudkannya.

Namun lebih berbahagia lagi orang yang menemukan dan memilih "kerikilnya" sendiri dan bercita-cita mewujudkan mimpi orang banyak.


salam,
cp

yayasan kiras madani
(untuk masyarakat yang belajar, bertumbuh, berdaya)

Friday, August 11, 2006

KEPALA DAERAH MEMALSUKAN IJAZAH?


BURUK MUKA CERMIN DIBELAH: menyoal ijasah palsu kepala daerah

Kasus ijazah palsu (baca: ijazah tidak memenuhi persyaratanadministrasi) kepala daerah dan wakil kepala daerah akhir-akhir ini,mungkin bisa diibaratkan pepatah Buruk Muka Cermin Dibelah. Ibaratkaki tersandung batu akibat kurang hati-hati di jalan, namun yangdisalahkan justru keberadaan batunya.Para pendukung kepala daerah yang terkena kasus ijazah yang didugapalsu, baik perorangan maupun kelompok seolah "mementahkan" syaratadministratif kepala daerah yang dibelanya, dengan mengeluarkankomentar "kenapa mempersoalkan selembar kertas pendidikan jika hanyabersifat memenuhi syarat formil?" Palsu tidaknya sebuah ijazahmenjadi tidak penting dan tidak perlu dipersoalkan, selama kepaladaerah tersebut dianggap mempunyai kapasitas memimpin danmenjalankan roda pemerintahan di daerah. Apalagi jika ada asumsibahwa pengaduan ijazah palsu dianggap sebuah intrik politik kelompoktertentu yang ingin menjatuhkan "jagoan' mereka, mengambil alihkekuasaan, sebagai aksi barisan sakit hati dan sebagainya.Mengapa ketika persoalan ijazah yang diduga palsu terjadi, "seolah"kita kembali mempertanyakan perlunya syarat formil tanda kelulusanseseorang ketika mencalonkan diri menjadi kepala daerah dan wakilkepala daerah (dalam peraturan perundang-undangan), ketimbangmembuktikan kebenaran palsu atau tidak ijazah itu?Mengapa pendukung kepala daerah dan wakil kepala daerah bermasalahjustru menampilkan sikap defens ketimbang mencoba membuktikankebenaran?Apakah hal ini disebabkan kekecewaan masyarakat karena tidak sedikitkasus yang membuktikan bahwa ijazah yang didapat belum tentumencerminkan moral atau bahkan tidak selamanya menjamin kepintaranatau kepemimpinan atau keberpihakan seorang kepala daerah terhadaprakyat pemilih?Siapa yang berwenang membuktikan ijazah tersebut palsu atau tidak?Bagaimana sikap kepala daerah atau wakil kepala daerah dalammenanggapi pengaduan ijazah palsu ini, menuntut balik si pengaduatau dengan tenang membuktikan dirinya bersih?Apa dampak persoalan dugaan ijazah palsu bagi jalannya rodapemerintahan dan kelangsungan kepercayaan publik?Pada kenyataannya, persoalan ijazah sebagai syarat kelengkapanadministrasi tidak semudah yang dikira sebagian orang. Persyaratanijazah sebagai salah satu syarat administratif calon kepala daerahdan wakil kepala daerah jelas memiliki dasar hukum yang kuat,seperti tercantum dalam UU Pemerintahan Daerah No. 32 tahun 2004pasal 58 huruf c: kepala daerah dan wakil kepala daerah,berpendidikan sekurang-kurangnya sekolah lanjutan tingkat atasdan/atau sederajat. Yang dimaksud dengan "sekolah lanjutan tingkatatas dan/atau sederajat" dalam ketentuan ini dibuktikan dengan surattanda tamat belajar yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang.Pada petunjuk pelaksanaan yang termuat dalam PP No. 6 tahun2005 tentang Pemilihan Pengesahan Pengangkatan dan PemberhentianKepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pasal 38 huruf c dijelaskanpula syarat administratif : Berpendidikan sekurang-kurangnyaSLTA/sederajat yang dibuktikan ijazah pendidikan formal dari tingkatdasar sampai dengan ijazah terakhir yang dilegalisir oleh pejabatyang berwenang.Apabila syarat-syarat administrasi calon kepala daerah dan wakilkepala daerah seolah dibantah atau "kembali dimentahkan" olehmasyarakat sendiri hanya karena fanatisme kepada seseorang, makaakan berakibat kurang baik dalam keberlangsungan demokrasi,akuntabilitas dan transparansi pejabat publik selanjutnya. Padahalsemua yang tercantum dalam undang-undang tersebut adalah resmi dalamtata kenegaraan. Mengubah aturan main sama saja dengan bermaksudmengubah undang-undang yang sudah ditetapkan, dan hal itu tentunyamemerlukan proses panjang, sekumpulan perdebatan, pro-kontra,sejumlah rapat pembahasan yang melelahkan dan tentunya sejumlah danabagi pantia perencana undang-undang, yang notabene merupakan uangrakyat juga.Kelompok pembela kepala daerah yang ijazahnya bermasalah padaakhirnya "bertanding" dengan kelompok yang mengadukan atau kelompokyang mendukung dibuktikannya kebenaran "ijazah bermasalah" tersebut.Kondisi ini bisa saja menyulut konflik, mengundang munculnyaberbagai aksi pro-kontra, menimbulkan keresahan masyarakat danmenyebabkan terganggunya kepercayaan publik, apalagi ketikapembuktian kasus ijazah semakin tak jelas, terkatung-katung dan takkunjung usai.bersambung........TUGAS DAN WEWENANG KPUD

Saturday, February 18, 2006

POLITIK TIDAK BERHENTI PADA MALAM MINGGU

The Prospect is published by The Indonesian Institute. Our messages are democracy, unity and prosperity.

Saturday, Feb. 18, 2006

More articles...
Klinik Pejuang


Dialog Politik

Politik Tidak Berhenti Pada Malam Minggu (tulisan saya tahun 2002 dimuat dalam http://www.theindonesianinstitute.org-berpusat di iowa)

Caroline Pintauli Purba


Apa yang dikerjakan seorang lajang pada Malam Minggu? Tentunya banyak alternatif, apalagi jika orang tersebut berasal dari kelas menengah ke atas. Setelah berkutat dengan kesibukan kerja atau kuliah, para lajang kota besar seperti Jakarta, biasanya menghabiskan Malam Minggu dengan mengunjungi mall, atau sekedar minum di cafe, nonton film, karaoke, main bowling, main bilyar atau pergi ke diskotik bersama teman-teman. Bagi yang hobby nonton bola, bisa dipastikan siap di depan TV dengan kacang kulit dan bir.
Ada juga yang berkumpul di suatu tempat, seperti komunitas diskusi puisi, teater, agama, filsafat, buku dan film. Biasanya pada Malam Minggu juga sering diadakan pertunjukkan balet kontemporer, teater, wayang orang, berbagai pameran atau konser musik sampai launching buku. Kelompok yang senang petualangan bebas, sudah berangkat sejak Jumat Malam untuk memadati daerah pegunungan, pantai, arena balap mobil atau daerah peristirahatan yang sejuk. Kemajuan teknologi juga memudahkan para lajang yang tak ingin keluar rumah. Ada game di komputer, TV kabel, menjelajahi situs internet, ngobrol-chat. Semua acara dan kegiatan diharapkan memberi hiburan, kesenangan dan kenyamanan. Apalagi mengingat situasi dan kondisi negara ini semakin tak menentu, sehingga sah-sah saja ketika setiap orang mencari pelampiasan kesumpekan. Namun saya yakin, tak seorangpun merencanakan Dialog Politik Pada Malam Minggu. Kalaupun ada, tentunya terdapat dua kemungkinan : Pertama, dia seorang pemikir serius yang dengan sengaja meluangkan waktu dan yang kedua, dia seorang yang terjebak dalam kondisi itu. Dan Pada Malam Minggu yang diwarnai hujan deras dengan disertai guntur menggelegar, saya berada dalam kondisi kedua. Mulanya hanya memenuhi panggilan seorang istri anggota DPR, yang meminta saya membantu membereskan proposal program pelatihan sebuah organisasi wanita. Namun kelanjutannya adalah makan sore dan minum kopi, lalu kabel komputer yang rusak. Agar bisa membaca apa yang sudah saya tulis, kami harus menunggu kabel baru.
Hal itu biasa saja. Namun yang luar biasa adalah, ketika sang suami yang termasuk vokal dalam menggalang opini pembentukkan Pansus Bullogate II dan pemutihan pajak pendapatan, malah memberi kuliah sore. Saya masih ingat, sejak 20 tahun lalu Bapak DPR ini memang suka berdebat soal politik. Bahkan bisa dibilang disetiap kesempatan, mulai dari meja makan sampai acara nonton TV kalau bisa diisi sepenuhnya untuk pembicaraan substansial dan bermutu. Kami yang waktu itu masih remaja sering lari menghindar dengan berbagai alasan, tentunya diiringi omelan panjang lebar, ‘tidak memikirkan republik’, ‘generasi cuek’, ‘generasi santai’, ‘buta politik’, ‘pemalas’, ‘tidak berwawasan’ dan lain sebagainya.
Itu dulu. Sekarang keadaannya jauh berbeda. Pekerjaan dan minat saya justru mengharuskan saya menggali informasi sebanyak-banyaknya langsung dari seorang wakil rakyat. Sebuah predikat yang akhir-akhir ini seringkali digugat, karena pada prakteknya jauh dari harapan. Singkat kata, terjadilah dialog mulai dari bisnis militer, kebebasan informasi, pajak yang tidak dilaporkan, selebritis pembicara masalah politik di TV, mengapa Megawati tidak tegas dalam menyikapi Kasus Bulog, Politik Balas Budi, Taufik Kemas, Amandemen UUD 45, Korupsi ala DPR, Pendidikan Politik, Pemilu 2004, kebrengsekan Partai Pemilu 1999, Hutang Luar Negri, Globalisasi, Tommy Soeharto, Kepemimpinan Nasional, Sekolah di Luar Negri, Tragedi WTC 11 September, Kelesuan Ekonomi Amerika, Kebijakan Fiskal, Harga Minyak Bumi, Demokrasi di Amerika beserta syarat pendukungnya, Rekayasa Isu Teroris, Penjualan Senjata, Perbandingan Parlemen di Luar Negri dan di Indonesia, Civil Society, isu penghancuran ornop, sejarah PKI, sampai kepada perubahan sistim Pemilu dan bagaimana menghancurkan kekuatan tentara. Cukuplah. Kepala saya sekarang dipenuhi begitu banyak masalah!
Setelah berdiskusi lebih dari 5 jam, saya pulang hanya dengan membawa satu buku pinjaman. Agak pelit memang, namun setidaknya ada yang bisa dibawa, untuk sekedar membuktikan bahwa Bapak DPR yang budiman jangan sekedar provoke, berharap generasi muda untuk berbuat sesuatu, namun pelit dalam menyediakan fasilitas.
Setidaknya Malam Minggu kali ini menjadi lain dibanding biasanya. Apalagi di kantung baju saya, ada ongkos tambahan dari sang istri, cukup untuk mentraktir 10 orang makan bakso. Saya membayangkan sepulangnya dari Rumah Bapak DPR, saya bisa santai, makan malam, mandi, nonton angin malam lalu tidur nyenyak. Namun entah kenapa kendaraan yang saya tunggu tidak muncul-muncul. Terpaksa saya harus berjalan kaki ke tempat perhentian yang satunya. Karena tak tahan lapar, saya memasuki sebuah restoran padang di kawasan Pramuka. Ketika akan duduk, tiba-tiba ada yang memanggil nama saya. Rupanya seorang aktivis senior yang juga sedang makan di restoran itu. Beliau memperkenalkan saya pada dua orang temannya dari Maluku. Lagi-lagi saya terjebak dalam diskusi politik, namun topiknya seputar teori-teori kekuasaan, tentang kebenaran yang tidak perlu dibela mati-matian, Albert Camus, Machiavelli, Kerusuhan Ambon, tentara bayaran dan korupsi LSM. Sambil menikmati traktiran makan malam, Saya berpikir ada apa lagi setelah ini? Saya tidak berharap ketemu orang yang berdiskusi politik di dalam bis nanti. Ketika jam menunjukkan pukul sepuluh malam, dialogpun harus diakhiri. Itupun setelah ada telephone dari rumah. Syukurlah!
Dalam bis penuh sesak, saya sempat tersenyum melihat seorang pemuda sedang mengutarakan cinta kepada kekasihnya. Timbul pertanyaan, akankah lebih mudah jika kita buta politik, sehingga hidup menjadi lebih sederhana, tidak memusingkan?
Siapa yang berhak menilai atau bahkan menentukan bahwa Malam Minggu yang “normal” harus dijalani dengan kesenangan yang tidak berbau politik? Lalu siapa yang menyuarakan nasib orang-orang yang berdesakan dalam bis ini, karena pada kenyataannya hal inipun terkait dengan kebijakan politik. Bukankah generasi sekarang seharusnya justru lebih berperan serius memikirkan solusi terbaik menggantikan angkatan lama? Apakah saya sudah mensubstansialkan diri menjadi “Bapak DPR 20 Tahun” yang lalu?
Sejak dialog Sabtu itu, Bapak DPR sering meminta saya datang, khusus untuk berdiskusi. Sejak saat itu, bapak aktivis lama meminta saya untuk menjadi konsultan sebuah LSM di Maluku, tentunya dengan fasilitas dan honor yang memadai (walau saya sebenarnya tidak berharap). Dua bulan lagi, saya akan berangkat ke Ambon membantu program pemberdayaan masyarakat. Hidup memang penuh misteri. Semua berawal dari Saturday Night’ Dialogue. Tidak ada yang mengharuskan, bahwa sebaiknya diskusi politik berhenti pada malam Minggu. Mungkin sebaiknya diskusi politik tidak dibatasi oleh hari. Bahkan sikap kritis dan kesadaran politik justru harus ditumbuhkan, agar bangsa ini tidak mengulangi kesalahan pendahulunya, tidak pasif dalam menyikapi perkembangan dunia dan yang jelas dapat berkontribusi memikirkan masa depan bangsa. Saya sudah tercebur di dalamnya, merasakan pesona dan keruwetannya.


* Direktur Visi-90, memfasilitasi pengembangan media informasi sederhana dan modul pendidikan kritis-partisipatif bagi masyarakat akar rumput.

Last updated 4/22/02
© 2002 The Prospect and The Indonesian Institute, All Rights Reserved.

Monday, January 30, 2006

SUARA OMBAK SEMBILAN : a novel

Suara Ombak Sembilan
Bab I


Namaku Minerva. Menurut data, aku terlahir perempuan. Ketika kuliah di kedokteran, baru kupahami bahwa menjadi laki-laki atau perempuan adalah rangkaian rumit proses diferensiasi kromosom seks. Kadangkala proses diferensiasi itu gagal, maka terjadilah berbagai kelainan, sometimes mereka menyebutnya laki-laki suka laki laki, perempuan suka perempuan, laki-laki bersifat perempuan atau sebaliknya.

Tatkala para perempuan meributkan bagaimana memikat lelaki melalui kecantikan dan kemolekan tubuh, aku sudah selesai dengan kenikmatan alternatif yang diajarkan seorang laki-laki yang memiliki kehebatan bercinta, well, dia menjadikanku seakan sempurna. Karena itu aku tak butuh lagi simbol-simbol yang didambakan perempuan manapun di dunia ini, baik lewat iklan, undang-undang, agama atau bahkan aturan main yang ditetapkan masyarakat keblinger.kurasa.

Bahkan saat ini aku baru sadar akan kebenaran sejati, dimana tak ada lagi perbedaan perempuan atau laki-laki di "mata' Pencipta. Namun dalam kehidupan nyata seringkali kita mengutamakan laki-laki, menurut aturan turun temurun yang sama sekali tak adil atas nama pengendalian.

Siapakah perempuan? Bagaimanakah kehidupan seorang perempuan itu? Mengapa orang-orang di sekelilingku berkata, bahwa perempuan menjadi tak lengkap tanpa kehadiran laki-laki. Seolah hidup kami tak akan sempurna tanpa kata status menikah?

Sebagian dari kami meratap di sudut jalan atas nama uang, status, label, atas kemewahan kosmetik kapitalis, demi memuaskan mata laki-laki, bahkan semua mata laki-laki. Sebagian membelenggu diri demi nama baik, kehormatan, berpura-pura menjadi manusia lain, manusia palsu sambil tertawa kecil. Sebagian lagi memilih perlakuan tak adil atas nama kenyamanan, sebagian lagi membiarkan kelaminnya didefinisikan oleh laki-laki dari generasi ke generasi. Para ibu menasihati kami untuk tetap langsing agar suami tak selingkuh. Para orangtua menasihati anak gadisnya untuk tidak cerewet agar suami betah di rumah.

Tidak cukup hanya itu, tiba-tiba para lelaki mensyaratkan perempuan untuk punya penghasilan, bisa hamil, bisa mengerjakan pekerjaan rumah, bisa berdandan, bisa dibawa ke acara resmi, bisa merawat ibu mereka, bisa mengasuh anak, bisa menyediakan kopi, bisa selalu melayani di tempat tidur dan terutama dilarang marah jika penghasilan tidak cukup.

Untuk hal ini, tidak ada yang berhak mengatakan itu salah atau itu benar, hanya saja aku memilih untuk menjadi diriku, mencoba berjernih bebas menentukan jalan hidup, karena aku belajar dari suara alam, debur ombak di pantai selatan negeri ini, yang pada hitungan kesembilan, akan menghantam apapun di depanya, menyadarkanku akan ketidaksempurnaan manusia.

Untuk itu aku berterima kasih kepada semua sahabat, kekasih, orangtua dan semua orang yang menjadi inspirasiku, untuk semua yang memberi saran, kritik dan celaan. Kepada semua laki-laki yang kulibatkan dalam cerita ini, baik secara sengaja maupun tidak, yang mengajariku hidup, tentang pilihan bebas yang tak perlu disesali, tentang kematangan yang dibungkus sifat kekanakan seorang perempuan, tentang dan tentang mencintai tanpa syarat.

Terlebih rasa syukur kepada Perancang, Penulis Skenario Terbesar dalam hidup ini. DIA yang membiarkanku "mati berkali-kali", memampukanku hidup berkali-kali, memberi keberanian mengerjakan semua ini. Dia yang senantiasa “melempar” dan “menjerumuskan”ku kesana-kemari untuk belajar dan lebih belajar lagi mengasihi, demi sebuah pengenalan diri yang terus menerus, demi sebuah pelayanan yang tak henti-henti.

Wednesday, January 25, 2006

WOMAN

EVERY WOMAN SHOULD HAVE..


...a feeling of control over her destiny...

...one old love she can imagine

going back to... and one who reminds

her how far she has come...

..one friend who always makes

her laugh... and one who lets her cry...


EVERY WOMAN SHOULD KNOW...

...how to fall in love without losing herself...

...how to quit a job, break up with a lover,


and confront a friend without ruining the friendship...

...when to try harder... and when to walk away...


...how to have a good time at a party she'd never choose to attend...

...how to ask for what she wants in a way that makes it most

likely she'll get it...

...that she can't change the length of her calves, the width of

her hips, or the nature of her parents...


...that her childhood may not have been perfect... but its over...

...what she would and wouldn't do for love or more...

...how to live alone... even if she doesn't like it...


...whom she can trust, whom she can't, and

why she shouldn't take it personally...



...where to go... be it to her best friend's kitchen table...


or a charming inn in the woods...

when her soul needs soothing...

...what she can and can't accomplish in a day... a month... and a year...







sumber: internet
Siapakah diantara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? (matius 6:27)

Jika anda tahu bahwa Anda harus menunggu, mengapa tidak memilih untuk menikmati hidup ini sambil Anda menunggu? Mengapa tidak bergembira sementara Tuhan sedang bekerja mengubah sesuatu?

ANTUSIASME 2008

Sungai dan laut bisa merajai ratusan lembah adalah karena mereka lebih rendah dari lembah-lembah-lembah lainnya, maka mereka menjadi pemimpinnya.

sebab itu, kalau ingin mengatasi manusia bicaralah dengan gaya merendah, kalau ingin memimpin manusia, bicaralah dengan gaya seoloah-olah dirimu tertinggal di belakang.

Begitulah orang suci berada di atas tanpa memberatkan manusia lainnya, berada di depan tanpa menghalangi manusia lainnya, berada di depan tanpa menghalangi menusia lainnya maka seisi dunia merasa bahagia dan tak bosan mendorongnya.

Karena ia tak bersaing, maka ia tak tersaingi.. (laozi)