Wednesday, December 26, 2007
KALAIDOSKOP 2007-satu
Monday, October 29, 2007
KATA KATA YANG RELEVAN

Monday, October 15, 2007
LIFE IS TOO SHORT TO WORRY

tapi aku percaya ini:
jika ada luka, harus kita coba sembuhkan
dan jika ada yang sakit tidak ada obatnya,
harus kita cari (taken from captain corelli mandolin)
6-10 september
11-16 september
17 -23 september
Thursday, September 20, 2007
MENURUNKAN EGO, MENEMPATKAN HARGA DIRI
adalah karena mereka lebih rendah dari lembah-lembah lainnya
maka mereka menjadi pemimpinnya.
sebab itu,
kalau ingin mengatasi manusia,
bicaralah dengan gaya merendah,
kalau ingin memimpin manusia,
bicaralah dengan gaya seolah-olah dirimu tertinggal di belakang
begitulah cara orang suci
berada di atas, tanpa memberatkan manusia lainnya
berada di depan, tanpa menghalangi manusia lainnya
maka seisi dunia merasa bahagia dan tak bosan mendorongnya
karena ia tak bersaing, maka ia tak tersaingi
Ada banyak orang menjadi marah dan berlaku kejam ketika harga dirinya tersentuh, ketika egonya naik. Contohnya seperti yang saya alami.
Jika dipikirkan lagi lebih dalam, semua hal diatas berhubungan dengan harga diri dan ego, seolah kita adalah orang terpilih yang tidak boleh diperlakukan sewenang-wenang, harus dihargai, dihormati, dianggap penting dan harus dimengerti. Padahal tidak semua orang mengenal keberadaan diri kita yang sebenarnya…sehingga pada akhirnya kita terjebak untuk memikirkan dan memusingkan hal itu sehingga apada akhirnya melenyapkan sukacita kita sebagai manusia yang memang tidak sempurna dan harus bisa menerima ketidaksempurnaan orang lain.
Apa yang kita dapat jika marah dengan orang yang mengecewakan kita? Timbul kekejaman pikiran (ntar gue sikat juga nih orang!), timbul rasa kasihan diri (udah gue tolong eh ngelunjak) timbul pikiran-pikiran negatif dan prasangka (jangan-jangan sengaja dia bikin kesel), hampa (karena pada akhirnya nurani kita tidak setuju dan menyesali apa yang telah kita ucapkan).
Pada saat kritis tersebut saya diingatkan untuk membaca kembali petuah dari laozi. Bagaimana menurut and, setuju?
Wednesday, September 12, 2007
Feminisme, Lajang dan Seks Bebas
Sebelumnya aku minta maaf jika ada kata-kata yang salah dariku yang menyinggung Mbak Carol pas kita ngobrol kapan hari lalu. Tapi sungguh mengasyikkan bisa berdiskusi dengan seorang feminis, anggota KPUD dan seorang dokter hewan. Namun yang membuatku bergairah berdiskusi dengan Mbak adalah ketika Mbak menyebutku sebagai seorang yang tak mengerti akan feminisme dan menyamakan feminisme dengan sex bebas. Yuk kita bahas satu persatu masalah ini (mulai serius nih,..hehehehe)
Masalahnya yang kulihat di kenyataan (dan mungkin juga banyak orang awam melihat) orang yang memproklamirkan dirinya feminis terkesan “beda” dengan perempuan kebanyakan. Bedanya misalnya mereka betah melajang (tentu dengan banyak alasan) bahkan berniat gak nikah seperti Ayu Utami contohnya. Namun ada yang menikah namun berkomitmen tidak memiliki anak seperti Wardah Hafidz (sorry kalo salah nama) dari Urban Poor Consortium. Dan mungkin juga Mbak Carol termasuk salah satunya,...heheheh. Dan tentu masih banyak contoh yang lain.
Tapi untuk kasus Mbak, kok Keputusan Mbak masih mau sih nunggu Si Doi yang katanya harus membujang sampai cita-citanya terlaksana? Lantas nilai-nilai feminsime-nya mana nih ? Hehehehe, cinta memang kadang membutakan yah ?
Cinta mungkin sama butanya dengan keadilan di dunia ini:) Namun orang yang sabar menunggu sesuatu yang berharga, saya rasa tidak ada hubungannya dengan feminisme. Kecuali saya terpenjara dalam sebuah rumah tangga yang penuh dengan kekerasan..maka saya tidak layak menyebut diri feminis :)
Yang kedua, bukan maksudku menyamakan feminisme dengan sex bebas, sama sekali tidak. Cuman keterbatasan menjelaskan di SMS lah yang membuatku tidak bisa menuangkan penjelasan buat Mbak Carol. Kalau Mbak menilaiku seperti itu memang gak salah. Sebab masih ada pandangan yang menyamakam gerakan feminisme sebagai gerakan yang tak beda dengan kelakuan flower generation di era 70-an.
Jawaban;Jika anda lebih banyak membaca buku2 dan fakta sejarah maka anda akan lebih paham tentang gerakan feminisme di Indonesia, yang pada suatu masa dikop oleh sebuah gerakan lain yang mendompleng shg membuat interpretasi buruk. Itu kan hanya akal-akalan sebuah rezim masa lampau yang harus dicari lagi bukti2 nya. Feminisme dan seks bebas tidak ada hubungannya. Begitu banyak manusia yang bukan feminis bahkan tidak tau apa itu feminisme melakukan seks bebas :) Hanya karena seorang feminis sadar dan tahu akan pilihan bebasnya bukan berarti dia seorang free sex.
Jawaban: Anda keliru mengatakan feminisme muncul dari barat. Dari buku2 yang saya baca tentang sejarah, feminisme bahkan sudah ada di abad ke 13 di negara ini dan negara2 asia lainnya. Melalui catatan perjuangan kaum perempuan dalam cerita raja2, terutama dalam membela kehormatan bangsa. Hanya saja istilah feminisme baru muncul pada abad 19-an seiring dengan gerakan pengorganisasian perempuan dunia.
jawaban: one night standing? Apakah karena feminis dia melakukannya?atau karena melakukannya dia disebut feminis? ada-ada saja!
ha..ha..anda harus hati2 menghakimi orang lain.saya rasa malah para lelaki dan perempuan saat ini biasa melakukannya di kota-kota besarbahkan kota kecil. Saya punya datanya dari kliping koran demi sebuah kebanggan dan trend global :)well, saya tidak ingin ingin terjerumus,menempatkan diri sebagai penjaga moral dalam hal ini.
Kiranya sudah banyak yang kutuangkan di surat ini, semoga menjadi pembuka bagi diskusi-diskusi yang lain yang aku harapkan dapat membuka cakrawala pemikiranku. Bukan hanya untuk feminisme belaka, namun untuk hal yang lain juga. Sekali lagi mohon maaf dan terima kasih atas kesediaannya berdialog.
Sunday, August 19, 2007
MENJADI LEGENDA (bagian I)

Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. (II Korintus 3 : 17)
Dalam Kamus Bahasa Indonesia tertera arti legenda adalah cerita rakyat pada zaman dahulu yang ada hubungannya dengan peristiwa sejarah.
Dalam bahasa dan pemikiran saya “melegenda” (menjadi legenda), berkaitan dengan peristiwa atau kisah terkenal, menjadi peristiwa bersejarah yang dikenang banyak orang, diceritakan turun temurun, berhubungan dengan perjuangan, kepahlawanan, sesuatu yang heroik, hebat, berguna dan dirasakan semangatnya hingga sekarang dan sebagainya.
Saya tidak tahu ada berapa banyak manusia di dunia ini yang bercita-cita menjadi LEGENDA. Dalam sebuah film yang saya tonton, diceritakan seorang laki-laki yang memilih mengaku menjadi seorang legenda tokoh kriminal Sommersby dan mati karena hukuman gantung, ketimbang menjadi diri sendiri, namun tidak terkenal (bukan siapa-siapa) -walaupun ada kesempatan baginya selamat dari hukuman mati asal dia mengaku bukan tokoh jahat itu. Lebih baik mati dan dikenang daripada hidup namun tidak menjadi apa-apa.
Dalam kehidupan sehari-hari banyak pula manusia yang berkata “Saya ini bukan siapa-siapa, I’m nobody” atau “Saya tidak berambisi menjadi sesuatu, semua dijalani biasa-biasa saja.” Untuk golongan manusia saya membaginya menjadi dua jenis, yang Pertama justru merekalah orang-orang yang punya prestasi besar, cerdas, berbakat dan hebat dan itu sebuah cara untuk “merendah” atau Kedua bisa juga merupakan kesombongan tersembunyi oleh karena lebih suka mendapat pujian dobel. Sebab setelah pendengar mengetahui bahwa mereka hebat, maka yang muncul adalah hebat kuadrat he..he. dan mereka mendapat pujian dua kali lipat.
Golongan yang lain, adalah orang yang memang merasa bukan siapa-siapa, tidak punya motivasi entah karena malas, tidak semangat atau sedang mengalami kekecewaan yang parah sehingga kalimat-kalimat itu saya artikan sebagai kalimat yang keluar dari pribadi apatis. Bahkan ada juga beberapa orang yang berkata, “ Saya tidak akan jadi apa-apa.”
Terkait dengan hal itu, saya baru membaca sebuah tulisan yang mengangkat kisah WR Supratman- pengarang lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Lagu kebangsaan dapat dikatakan sebagai identitas sebuah negara, selain lambang negara dan bendera. Cara menyanyikan lagu kebangsaan tiap-tiap negara punya ciri masing-masing. Ada yang menempelkan telapak tangan kanan nya ke dada sebelah kiri, agar merasakan denyut janyung masing-masing diri di alam kemerdekaannya. Ada pula yang mengepalkan tangan kanannya membentuk sebuah tinju dan ditempelkan ke dada sebelah kirinya.
Untuk Indonesia, biasanya cukup berdiri dengan sikap sempurna. Jika memakai topi atau peci, biasanya sambil memberi hormat, ketika lagu Indonesia Raya dikumandangkan dengan tempo mars. Sedangkan jika tidak memakai topi, wajib bersikap sempurna dan dengan gagah menghadap ke depan.
Lagu Indonesia raya tidak diperkenankan dinyanyikan dengan suara satu, dua, tiga dan empat layaknya koor. Lagu Indonesia Raya harus dinyanyikan dengan satu suara dan penuh semangat. Lagu Indonesia Raya tidak diperkenankan dinyanyikan dengan bertepuk tangan atau berjoget.
Pikiran saya menerawang, apakah WR Supratman dulunya pernah membayangkan bahwa lagu ciptaan nya akan menjadi terkenal dan tersohor di dunia, karena dipakai sebagai lagu kebangsaan sebuah negara yang berdiri tahun 1945? Atau berapa lamakah proses pembuatan lagu ini, apakah beliau begadang berhari-hari ataukah dalam satu malam sudah jadi.
Tidak banyak orang, khususnya generasi muda yang mengetahui siapa Wage Rudolf Supratman. Padahal namanya dipakai dimana-mana, ada nama jalan, ada pula nama sekolah dan sebagainya. Bahkan seringkali dalam upacara-upacara resmi tidak pernah terlintas dalam diri kita untuk mengenang pengarangnya, yang karyanya tercatat sebagai momen penting dan bersejarah dalam perjalanan berdirinya suatu bangsa. Padahal selain sebagai pencipta lagu kebangsaan yang selalu dinyanyikan, Supratman juga seorang Pahlawan Nasional, penerima Bintang Mahaputra Anumerta III pada tahun 1961.
WR Supratman yang dilahirkan di Jatinegara Jakarta Tanggal 9 Maret 1903, juga seorang pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia. Sebab sejak mudanya beliau sudah akrab bergaul dengan kaum pergerakan atau pejuang kemerdekaan.
Ketika dilahirkan beliau diberi nama Supratman. Nama Wage menurut wetonan atau hari lahir berdasarkan kalender Jawa, dan nama Rudolp adalah pemberian abang iparnya HM Van Eldik, suami dari kakaknya yang tertua Roekijem Soepratijah. Jadi lengkapnya Wage Rudolp Supratman. Nama ini diperlukan agar dia bisa diterima di sekolah Belanda (ELS atau Europeesche Lagere School)
Namun beliau tidak lama di sekolah ini, karena kemudian ketahuan bahwa dia bukan anak seorang berpangkat dan bukan pula anak kandung Van Eldik. Jadi bukan langsung keturunan Belanda. Tapi selama ikut dengan kakaknya di Makassar, dia tertarik pada soal-soal politik, soal perjuangan, soal kemerdekaan, dan diapun rajin menghadiri rapat-rapat atau ceramah-ceramah yang diadakan kaum pergerakan.
Apalagi setelah dia mengetahui bahwa nenek buyutnya adalah pengikut atau perwira dari pasukan Pangeran Diponegoro yang berperang melawan Belanda. Ketika kembali ke Jawa, terutama di Kota Bandung, Jakarta dan Surabaya dia turut aktif dalam aktivitas kaum pergerakan. Dia malah menjadi wartawan surat kabar “Kaum Muda” kantor berita Alpena dan terakhir wartawan harian Sin Po.
Beliau dikenal sebagai wartawan militan yang rajin menghadiri dan meliput rapat-rapat partai politik, antara lain PNI (Partai Nasional Indonesia) dan Parindra (Partai Indonesia Raya). Tulisan dan kritiknya terkenal tajam menyoroti kepincangan-kepincangan pemerintah kolonial Belanda. Tak heran jika beliau jadi incaran PID (Politieke Inlichtingen Dienst) atau polisi rahasia kolonial Belanda.
Selain itu Supratman juga seorang seniman, baik seniman pencipta lagu (komponis) maupun sastrawan. Cukup banyak lagu yang diciptakannya yang semua bernada perjuangan, membangkitkan semangat bangsa Indonesia seperti lagu Mars KBI, Mars Surya Wirawan, Parindra, Di Timur Ada Matahari, Ibu Kita Kartini, Dari Barat sampai ke Timur dan yang terpenting Indonesia Raya yang kemudian resmi menjadi lagu kebangsaan Indonesia.
Memang benar lagu ini tadinya terdiri dari tiga stanza, tapi yang resmi menjadi lagu kebangsaan adalah stanza I. Lagu ini untuk pertama kali diperdengarkan di hadapan publik adalah pada Konggres Pemuda II 28 Oktober 1928 dan mendapat sambutan luar biasa dan langsung diputuskan dalam konggres tersebut sebagai lagu kebangsaan bangsa Indonesia.
Sebagai sastrawan Supratman sudah mengarang roman yakni Perawan Desa, Darah Muda dan Kaum Fanatik. Meskipun namanya sangat terkenal sebagai komponis, pejuang dan wartawan namun dari segi materi dapat dikatakan miskin, gajinya sebagai wartawan 35 gulden per bulan, sama sekali tak mencukupi. Penghargaan yang diterimanya setelah Indonesia merdeka, tidak dapat dinikmatinya karena WR Supratman jatuh sakit dan meninggal dunia tanggal 17 Agustus 1938 di Surabaya. Tidak meninggalkan keturunan. Tidak juga mewariskan kekayaan materi. Itulah pejuang!
dari berbagai sumber
The sound of NASIONALISME

biar saja ku tak seharum bunga mawar
tapi slalu kucoba tuk mengharumkanmu
Merah Putih terus lah kau berkibar
di ujung tiang tertinggi
di Indonesia ku ini
ku kan slalu menjagamu
demi kehormatan bangsa
demi tumpah darah semua pahlawan
Barangkali Nasionalisme itu bagaikan menonton film Sound of Music. Film legendaris yang berkali-kali saya tonton sepanjang hidup saya, tapi tetap saja memunculkan makna baru, kesan lebih mendalam atau juga makna yang lain, yang mungkin agak berbeda tergantung waktu dan kondisi kita pada saat menonton.
Dulu sewaktu anak-anak, saya menganggap film ini menyenangkan, karena di sepanjang film banyak kejadian lucu, pemainnya anak-anak, permainan lagu yang mengesankan terutama lagu do re mi yang terkenal di dunia. Beranjak remaja, saya menganggap film ini cerita romantis-saat anak gadis Kapten Von Trapp punya kekasih yang tentara. Bahkan seorang teman saya-saking terkesannya malah pernah menghayal bernasib seperti Mary Von Trapp, seorang suster yang keluar dari biara karena menikah dengan duda ganteng dengan anak-anak yang nakal, seperti dalam cerita itu. Wealaaaaahhhh!
Saat kuliah saya menyaksikan film ini sebagai karya musik yang luar biasa, tidak saja pada zamannya, namun hingga kini- sehingga timbul ide membuat semacam opera yang lagu-lagunya dimodifikasi berdasarkan musik film tersebut. Hasilnya? Lewat begadang selama sebulan lahirlah opera paskah di kampus-dengan saya sebagai penulis merangkap sutradaranya, menjadi tontonan dan kenangan manis pada acara peringatan paskah sekitar tahun 89-an.
Dan pada kelanjutannya, setelah berkali-kali menonton barulah saya menyadari bahwa film ini memuat pesan pendidikan politik, sebuah sejarah besar, sebuah kesetiaan dan perjuangan membela negara, membela kehormatan harga diri dan bangsa, sebuah strategi perang cerdik, sebuah contoh pengkhianatan, sebuah ketulusan, keberanian, kerelaan, keimanan, sebuah kesadaran kepahlawanan, seperangkat pesan dan ajaran menjadi nasionalis sejati, sehingga wajar menurut saya jika setiap orangtua wajib menyimpan film “lama” ini sabagai koleksi karena film ini memuat lengkap segala hal baik.
Nasionalis secara umum diartikan sebagai orang yang memperjuangkan kepentingan bangsanya, pecinta nusa dan bangsa sendiri. Sedangkan Nasionalisme adalah paham atau ajaran untuk mencintai bangsa dan negara sendiri, kesadaran keanggotaan di suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran dan kekuatan bangsa, diartikan juga sebagai semangat kebangsaan.
Menjelang Peringatan Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2007, berbagai media mempertanyakan tentang nasionalisme bangsa, dengan mengungkapkan beberapa fakta penurunan kualitas kebangsaan.
Seberapa ingatkah kita akan pengalaman memperingati kemerdekaan dari tahun ke tahun? Mari kita kembali ke film Sound of Music. (bersambung).
Jika anda tahu bahwa Anda harus menunggu, mengapa tidak memilih untuk menikmati hidup ini sambil Anda menunggu? Mengapa tidak bergembira sementara Tuhan sedang bekerja mengubah sesuatu?
ANTUSIASME 2008
Sungai dan laut bisa merajai ratusan lembah adalah karena mereka lebih rendah dari lembah-lembah-lembah lainnya, maka mereka menjadi pemimpinnya.
sebab itu, kalau ingin mengatasi manusia bicaralah dengan gaya merendah, kalau ingin memimpin manusia, bicaralah dengan gaya seoloah-olah dirimu tertinggal di belakang.
Begitulah orang suci berada di atas tanpa memberatkan manusia lainnya, berada di depan tanpa menghalangi manusia lainnya, berada di depan tanpa menghalangi menusia lainnya maka seisi dunia merasa bahagia dan tak bosan mendorongnya.
Karena ia tak bersaing, maka ia tak tersaingi.. (laozi)