Sebelumnya aku minta maaf jika ada kata-kata yang salah dariku yang menyinggung Mbak Carol pas kita ngobrol kapan hari lalu. Tapi sungguh mengasyikkan bisa berdiskusi dengan seorang feminis, anggota KPUD dan seorang dokter hewan. Namun yang membuatku bergairah berdiskusi dengan Mbak adalah ketika Mbak menyebutku sebagai seorang yang tak mengerti akan feminisme dan menyamakan feminisme dengan sex bebas. Yuk kita bahas satu persatu masalah ini (mulai serius nih,..hehehehe)
Masalahnya yang kulihat di kenyataan (dan mungkin juga banyak orang awam melihat) orang yang memproklamirkan dirinya feminis terkesan “beda” dengan perempuan kebanyakan. Bedanya misalnya mereka betah melajang (tentu dengan banyak alasan) bahkan berniat gak nikah seperti Ayu Utami contohnya. Namun ada yang menikah namun berkomitmen tidak memiliki anak seperti Wardah Hafidz (sorry kalo salah nama) dari Urban Poor Consortium. Dan mungkin juga Mbak Carol termasuk salah satunya,...heheheh. Dan tentu masih banyak contoh yang lain.
Tapi untuk kasus Mbak, kok Keputusan Mbak masih mau sih nunggu Si Doi yang katanya harus membujang sampai cita-citanya terlaksana? Lantas nilai-nilai feminsime-nya mana nih ? Hehehehe, cinta memang kadang membutakan yah ?
Cinta mungkin sama butanya dengan keadilan di dunia ini:) Namun orang yang sabar menunggu sesuatu yang berharga, saya rasa tidak ada hubungannya dengan feminisme. Kecuali saya terpenjara dalam sebuah rumah tangga yang penuh dengan kekerasan..maka saya tidak layak menyebut diri feminis :)
Yang kedua, bukan maksudku menyamakan feminisme dengan sex bebas, sama sekali tidak. Cuman keterbatasan menjelaskan di SMS lah yang membuatku tidak bisa menuangkan penjelasan buat Mbak Carol. Kalau Mbak menilaiku seperti itu memang gak salah. Sebab masih ada pandangan yang menyamakam gerakan feminisme sebagai gerakan yang tak beda dengan kelakuan flower generation di era 70-an.
Jawaban;Jika anda lebih banyak membaca buku2 dan fakta sejarah maka anda akan lebih paham tentang gerakan feminisme di Indonesia, yang pada suatu masa dikop oleh sebuah gerakan lain yang mendompleng shg membuat interpretasi buruk. Itu kan hanya akal-akalan sebuah rezim masa lampau yang harus dicari lagi bukti2 nya. Feminisme dan seks bebas tidak ada hubungannya. Begitu banyak manusia yang bukan feminis bahkan tidak tau apa itu feminisme melakukan seks bebas :) Hanya karena seorang feminis sadar dan tahu akan pilihan bebasnya bukan berarti dia seorang free sex.
Jawaban: Anda keliru mengatakan feminisme muncul dari barat. Dari buku2 yang saya baca tentang sejarah, feminisme bahkan sudah ada di abad ke 13 di negara ini dan negara2 asia lainnya. Melalui catatan perjuangan kaum perempuan dalam cerita raja2, terutama dalam membela kehormatan bangsa. Hanya saja istilah feminisme baru muncul pada abad 19-an seiring dengan gerakan pengorganisasian perempuan dunia.
jawaban: one night standing? Apakah karena feminis dia melakukannya?atau karena melakukannya dia disebut feminis? ada-ada saja!
ha..ha..anda harus hati2 menghakimi orang lain.saya rasa malah para lelaki dan perempuan saat ini biasa melakukannya di kota-kota besarbahkan kota kecil. Saya punya datanya dari kliping koran demi sebuah kebanggan dan trend global :)well, saya tidak ingin ingin terjerumus,menempatkan diri sebagai penjaga moral dalam hal ini.
Kiranya sudah banyak yang kutuangkan di surat ini, semoga menjadi pembuka bagi diskusi-diskusi yang lain yang aku harapkan dapat membuka cakrawala pemikiranku. Bukan hanya untuk feminisme belaka, namun untuk hal yang lain juga. Sekali lagi mohon maaf dan terima kasih atas kesediaannya berdialog.



